Fakta tak dapat dimungkiri, kenyataan tak dapat terbantahkan, realitas obyektif telah membuktikan bahwa kisah sukses orang-orang besar tak lepas dari bakti mereka kepada kedua orang tuanya, serta dukungan dan do’a orang tua yang tak kenal lelah. Khalid Bin Walid, Abu Hurairah, Imam Syafi’I, serta tokoh-tokoh kontemporer dan muslim sukses abad ini tak lepas dari The Great Power of Parents. Hal ini sangat relevan dengan ajaran Islam. Suatu saat Rasulullah SAW pernah ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah).

Ketokohan Khalid bin Walid tak lagi asing dalam sejarah kepahlawanan Islam. Dialah panglima “termahal” dalam sejarah Islam. Dialah seorang mujahid legendaris yang namanya membuat orang kafir miris. Mendengar julukannya saja kita akan tergetar, dialah Saifullah al-maslul. Pedang Allah yang selalu terhunus. Khalid adalah inspirasi Syahid. Ia melanglang buana, mengikuti seratus kali pertempuran besar dan tiada secuil pun bagian tubuhnya, kecuali penuh luka akibat sabetan senjata peperangan.

Begitulah kehebatan Khalid. Namun ada yang lebih dahsyat di balik kedahsyatan Khalid. Siapakah dia? Dialah ibunya. Ibu yang telah melahirkannya. Ketika Umar bin Khattab mendengar Khalid di pengujung usianya, beliau mengakui eksistensi kepahlawan dan keutamaannya, “seluruh wanita tidak mampu melahirkan anak seperti Khalid!”. Begitu komentar Umar terhadap pahlawan besar ini. Dibalik para pahlawan besar, ada wanita-wanita besar. Dan kunci dari itu semua adalah tarbiyah. Dan tarbiyah di tangan bijak seorang ibu akan menjadi energi dahsyat.

Abu Hurairah adalah salah seorang sahabat Nabi yang patut diteladani dalam memelihara ajaran Islam tentang birrul walidain. Diantara akhlak mulia Abu Hurairah yang membawanya pada kedudukan tinggi adalah bakti dan kesetiaannya kepada sang ibu. Kisah Abu Hurairah bersama ibunya tercantum dalam Shahih Muslim dan kitab hadist lainnya. Suatu waktu Abu Hurairah pernah berkata, “Aku makan satu biji dan sisanya kusimpan.” Rasulullah SAWbertanya, “Wahai Abu Hurairah, mengapa engkau tidak memakan kurma itu?” Aku menjawab, “Untuk ibuku!” Rasulullah SAW berkata, “Makanlah, aku akan memberikan untuk ibumu dua biji kurma lainnya.” Kemudian aku memakannya, lalu Rasulullah memberiku dua biji lagi.

Imam Syafi’i di usia 7 tahun beliau telah hafal al-Quran dengan lancar, umur 10 tahun telah hafal kitab hadits karya imam Malik, al-Muwatha’. Dan umur 12 tahun beliau telah disahkan menjadi seorang mufti. Kesuksesan yang diukir Imam Syafi’i ini juga tak lepas dari ketaatannya kepada ibundanya. Bahkan secara khusus Imam Syafi’I mengekspresikan baktinya dengan menulis kitab al-Umm yang maknanya Ibu dan mengungkapkan dalam syair:

Taatilah Allah sebagaimana yang Dia perintahkan

Penuhilah hatimu dengan sikap waspada

Taatilah bapakmu karena dialah yang telah memeliharamu di waktu kecil

Merendah dan ridhalah kepada ibumu karena durhaka kepadanya termasuk dosa besar

Kisah suskses orang-orang hebat sebagaimana terdeskripsi di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa orang-orang sukses adalah orang-orang yang mampu mendedikasikan baktinya kepada orang tua. Disamping itu, mereka juga mampu menggali potensi dahsyat dari rumahnya, dari orang tuanya. Merekalah madrasah sebelum madrasah lainnya. Merekalah Sekolah sebelum sekolah lainnya.

Birrul walidain sejatinya adalah wujud ketaatan dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Bila posisi kita kepada Allah dan Rasul-Nya di puncak ketaatan, maka berbakti kepada kedua orang tua adalah ekspresi cinta itu sendiri. Cinta kepada Allah memberikan inspirasi untuk menaati segala yang diperintahkan-Nya termasuk berbakti kepada kedua orang tua.

Birrul Walidain sesungguhnya bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban. Tetapi dapat dimaknai lebih dahsyat yakni sebagai ekspresi keimanan, bukti kecintaan, wujud ketaatan, investasi masa depan, perencanaan reuni abadi di surga penuh kebahagiaan. Karena itulah, bakti harus terus dilakukan baik ketika masih hidup maupun setelah tiada. Dari bakti sejati inilah akan kita dapatkan doa yang mustajabah dan ridha yang mengiringi langkah. Sebab, berbakti kepada orang tua itulah yang mengantarkan kepada ridha Allah.

Rasulullah pernah bersabda “Ridhallahi fi ridhal walidain” (Keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua). Ada anak yang terperosok ke dalam lubang kehancuran, karena menyia-nyiakan orang tuanya. Sementara ada anak yang mendulang kesuksesan dan kebahagiaan hidup karena memuliakan orang tuanya.

Dikatakan sebagai seorang mukmin sempurna imannya apabila ia mampu membuktikan ketaatannya kepada kedua orang tuanya. Al-Quran dengan gamblang menjelaskan,

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya….

(QS.Luqman: 13-14)

Di ayat yang lain Allah SWT berfirman:

“Dan Tuhan-mu memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”

(QS. Al-Isra’: 23)

Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan urusan keluarga, khusunya bakti kepada kedua orang tua. Tidak hanya perintah dan dorongan agar berbuat baik dan menjaga hubungan, akan tetapi juga menanamkan dan menggugah hati anak agar berbakti, memperhatikan orang tuanya dengan sepenuh hati.

Ketika perintah untuk berbakti kepada orang tua telah didedikasikan dengan dilandasi mahabbatullah, ikhlas meraih ridha-Nya, Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya, dikabulkan doanya, dimudahkan urusannya dan diwujudkan harapannya. Berbakti kepada orang tua akan mendatangkan energi kebahagiaan dan kesuksesan. Sebaliknya, durhaka kepada orang tua akan mendatangkan kesengsaraan penuh derita, baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga kita tergolong orang-orang yang selalu menjaga birrul walidaian serta memiliki awareness bahwa di balik keberhasilan hidup ini ada peran orang tua yang tak terlupakan. Aamiin.

Oleh : H. Syamsudin Salim, S.Ag., M.Ag. – Manajer BPI RSI-Sultan Agung