Teman Yang Baik

“Janganlah kau temani orang yang keadaan orang itu tidak menggerakkan kamu menyemangati kamu tidak pula ucapan-ucapannya menunjukkan kamu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Hikmah ini beliau memberikan nasihat tentang pertemanan. Tentu saja kita semua sudah maklum bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk sosial yang di mana pun kita hidup perlu orang lain, perlu sahabat, perlu teman. Kalau dalam Al-Qur’an surah At-Taubat ayat 119 Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu semua kepada Allah dan hendaklah kamu membersamai orang-orang yang benar, orang yang jujur dalam bertutur kata, bersikap dalam berbuat”. Dan pada surat Al-Kahfi ayat 28 Allah berfirman “Dan sabarkan dirimu untuk membersamai orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka pada pagi dan sore hari. Mereka ketika itu mengharap ridhonya dengan memahami perintah Allah”. Dalam dua ayat itu kita diperintahkan agar berteman dengan orang-orang yang baik antara lain adalah orang yang Shodiq orang yang jujur dalam perkataannya, jujur dalam tulisannya, jujur dalam perbuatan dan sikapnya. Dan kriteria yang lain yang penting untuk kita jadikan sahabat adalah orang-orang yang ingat kepada Allah dan mau berdoa kepada Allah pada waktu-waktu yang dia pilih pagi maupun sore.
Hikmah Al Imam As-Sakandari menasihatkan “Hindari teman kepada orang yang keadaannya tidak membuat kita tergerak bersemangat”. Yang dimaksud adalah bergerak dan semangat untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana agar melakukan ibadah, melakukan amal saleh yang menambah kita dekat pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bertutur kata, menulis, yang semua itu menambah kedekatan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Artinya beliau mengingatkan kepada para murid khususnya agar menjaga semangat bagaimana agar tetap ber-taqarrub pada Allah. Termasuk lewat media berteman silakan, berteman dengan siapapun tetapi yang pertemanan itu minimal tidak mengganggu proses taqarrub pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Syukur bisa menambah bersemangat untuk ber-taqarrub mendekatkan diri pada Allah dalam Ibadah, dalam amal saleh, dalam membawa manfaat dan maslahat; untuk diri, keluarga dan masyarakat. Itu tentu saja sangat baik dan jangan pula bersahabat dengan orang yang tutur katanya itu tidak menunjukkan kepada Allah artinya berteman dengan siapapun kita perlu mencermati apa yang dikatakan oleh teman. Nabi dalam salah satu haditsnya menyatakan “Sungguh di antara sekian keterangan yang diberikan orang dalam bentuk pernyataan formal maupun pernyataan-pernyataan yang lain dalam media itu ada kekuatan sihir yang bisa mempengaruhi siapapun dan untuk menjaga istiqomah kita agar tetap dalam takar pada Allah”. Penting seleksi yang kita dengar apa yang baik untuk kita simpan baik-baik jadikan bagian dari motivasi diri tetapi ada yang buruk silahkan dihilangkan.
Kemudian pada hikmah berikutnya beliau menasihatkan “Bisa jadi kamu itu orang yang kurang baik tetapi dalam nafsu dalam diri kita malah mendorong untuk berteman dengan orang yang jauh di bawah kita yang lebih buruk”. Dengan demikian harapannya adalah keburukan yang ada pada diri kita. Tidak begitu nampak bahkan kita akan bisa tertipu karena berteman dengan orang-orang yang lebih buruk. Ketika berteman dengan orang-orang yang di bawahnya itu kemungkinan akan mengurangi semangat memperbaiki diri, meningkatkan kualitas diri, khususnya di mata Allah bagaimana kita ber-taqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ada hadits Nabi yang memberikan perumpamaan tentang teman baik dan teman buruk, dan hadits itu adalah hadits Bukhari dan Muslim. Nabi bersabda “Teman yang baik dan teman yang buruk itu perumpamaannya seperti pembawa minyak misik dan orang yang meniup api untuk menempa besi pembawa minyak misik itu. Mungkin memberi kamu sedikit atau kamu membeli darinya atau paling tidak kamu akan menemukan aroma yang baik, sedang orang yang meniup api untuk menempa besi ada kemungkinannya ketika kau ada di sana pakaianmu akan terbakar karena percikan api. Paling tidak kamu akan menemukan aroma apek aroma yang tidak baik”. Hadits ini mengingatkan kalau memberi peringatan kita bagaimana agar berteman dengan orang yang baik dan sebaik mungkin kita menjaga diri dari pengaruh orang-orang yang tidak baik. Karena siapapun dari kita prinsipnya kita berteman ada kemungkinan menerima pengaruh atau memberi pengaruh orang yang kepribadiannya adalah pribadi mutiara padi emas. Iman kualitas emas maka berteman dengan siapapun dia tidak akan terpengaruh dari keburukan lingkungan dan teman. Tetapi secara umum orang itu akan mudah terpengaruh kalau memang yakin tidak terpengaruh oleh lingkungan dari sisi buruknya. Boleh kita berteman dengan siapapun apalagi termasuk Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, penting kita untuk berteman dengan siapapun tapi harus dengan keyakinan kita akan memberikan kebaikan pada lingkungan pada teman. Tidak sebaliknya membawa buruk pada teman dan anda. Kata ada lingkungan atau teman yang kurang baik kita akan kekeh dalam kebaikan dan sebisa mungkin memperbaiki teman dan lingkungan yang kurang baik. Semoga Allah memberikan untuk kita semua, aamiin ya Rabbal Alamin.
Pemateri : H. Tali Tulab, S.Ag., M.S.I
Source: https://youtu.be/4JmZvrT9yiE