
Semarang – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Dr. Pungky Lela Saputri, SST., ME., turut berpartisipasi dalam kegiatan riset internasional yang mengangkat isu keberlanjutan (sustainability) di Selandia Baru. Kegiatan yang berlangsung pada 19–25 Oktober 2026 tersebut merupakan bagian dari program hibah penelitian MORA The Air Fund yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Program penelitian internasional ini dipimpin oleh Prof. Abdurrahman Mas’ud, MA., Ph.D., Guru Besar UIN Walisongo yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Pendidikan serta Pelatihan Kementerian Agama RI periode 2014–2020.
Selama kunjungan, rombongan mengikuti berbagai agenda akademik di University of Auckland, diskusi lintas disiplin ilmu, serta kegiatan pengenalan budaya bersama masyarakat adat Māori. Rangkaian kegiatan tersebut bertujuan memperluas pemahaman mengenai hubungan manusia, kebudayaan, dan lingkungan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Sebagai akademisi yang memiliki keahlian di bidang manajemen keuangan syariah dan ekonomi Islam, Dr. Pungky Lela Saputri memberikan kontribusi pemikiran mengenai pentingnya prinsip kemaslahatan, keadilan sosial ekonomi, serta pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab.
Perspektif ekonomi Islam tersebut menjadi bagian penting dalam memperkaya pembahasan mengenai keberlanjutan, khususnya dalam mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan upaya pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu agenda akademik yang diikuti adalah diskusi bersama Muslim Chaplain di University of Auckland. Pertemuan tersebut membahas konsep ekoteologi Islam, yakni pendekatan yang menghubungkan ajaran Islam dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian alam.
Dalam pembahasan tersebut, manusia sebagai khalifah di muka bumi dipandang memiliki amanah untuk memelihara lingkungan, memanfaatkan sumber daya secara bijaksana, serta menjaga keseimbangan ekosistem demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.
Selain mengikuti kegiatan akademik di perguruan tinggi, delegasi juga mengunjungi Papatoetoe Intermediate School yang menerapkan pendekatan pendidikan berbasis lingkungan melalui program Enviro-Schools.
Sekolah tersebut mengintegrasikan pembelajaran pelestarian lingkungan dengan pengembangan keterampilan kewirausahaan. Sejumlah kegiatan yang dipelajari meliputi peternakan ayam, pertanian organik, hingga produksi madu. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan dapat dikembangkan secara praktis sekaligus menanamkan pemahaman ekonomi dan tanggung jawab dalam pemanfaatan sumber daya alam.
Pengalaman lintas budaya juga diperoleh melalui kunjungan ke komunitas Māori di Kaitaki Village, Selandia Baru. Dalam kesempatan tersebut, peserta mempelajari kearifan lokal masyarakat Māori yang menempatkan alam sebagai bagian penting dari kehidupan manusia.
Filosofi Ranginui atau Bapak Langit dan Papatūānuku atau Ibu Bumi menjadi salah satu nilai budaya yang diperkenalkan. Filosofi tersebut menggambarkan keterkaitan erat antara manusia, alam, dan seluruh unsur kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.
Pandangan masyarakat Māori menegaskan bahwa manusia bukanlah penguasa alam yang bebas mengeksploitasi sumber daya tanpa batas, melainkan bagian dari ekosistem yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungannya.
Keikutsertaan Dr. Pungky Lela Saputri dalam kegiatan riset internasional ini menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi UNISSULA dalam memperluas pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya terkait isu keberlanjutan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, nilai-nilai Islam, budaya, dan pelestarian lingkungan.
Melalui kolaborasi akademik lintas negara dan budaya, pengalaman serta pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat memperkaya pengembangan penelitian dan pendidikan di UNISSULA, sekaligus memberikan kontribusi terhadap upaya menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
