{"id":2819,"date":"2019-09-23T09:37:42","date_gmt":"2019-09-23T02:37:42","guid":{"rendered":"https:\/\/ybw-sa.org\/?p=2819"},"modified":"2019-09-23T09:37:42","modified_gmt":"2019-09-23T02:37:42","slug":"pendidikan-akhlak-ala-nabi-ibrahim-as","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/pendidikan-akhlak-ala-nabi-ibrahim-as\/","title":{"rendered":"Pendidikan Akhlak ala Nabi Ibrahim AS"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Pendidikan-anak.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2823\" data-link=\"https:\/\/ybw-sa.org\/?attachment_id=2823\" class=\"wp-image-2823\"\/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dalam Islam, akhlak memiliki kedudukan\nyang sangat penting. Dalam salah satu haditsnya, nabi Muhammad saw bersabda\n\u201cSesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan kesempurnaan akhlak\u201d. Dalam\nhadits yang lain rasulullah juga pernah bersabda \u201cKaum mukminin yang paling\nsempurna imannya, adalah orang yang paling baik akhlaknya.\u201d (HR. Ahmad). Hal\ntersebut seolah menegaskan, bahwa Islam adalah akhlak itu sendiri. Baik akhlak\nkepada Allah sebagai Khalik maupun kepada sesama makhluk (manusia, binatang,\ntumbuhan, dll). <\/p>\n\n\n\n<p>Al-Qur\u2019an, sebagai pedoman hidup\numat Islam, banyak memuat kisah-kisah umat terdahulu dengan segala pola\ninteraksi kehidupannya agar dapat dijadikan pelajaran oleh umat setelahnya.\nSalah satu kisah yang dapat diambil sebagai contoh adalah kisah nabi Ibrahim as;\nyakni tentang bagaimana nabi Ibrahim as memberikan keteladanan dalam memberikan\npendidikan akhlak kepada keluarganya. Allah SWT berfirman :<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cSesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia\u201d .<\/em><\/p><cite> <em>(QS al-Mumtahanah: 4)<\/em> <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Dalam artikel ini, kita akan\nmengupas setidaknya tiga hal berkenaan dengan pendidikan akhlak yang diajarkan\noleh <em>khalilullah<\/em> Ibrahim as kepada anaknya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. <\/strong><strong>Penanaman tauhid kepada anak sejak\ndini<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam QS al-Baqarah: 132, dijelaskan\nbahwa nabi Ibrahim as telah menasehati anak-anaknya agar senantiasa memegang\nteguh keimanan. Allah swt berfirman:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cDan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya&#8217;qub. (Ibrahim berkata): &#8220;Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam&#8221;.<\/em><\/p><cite>(Q.S. al-Baqarah: 132)<\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Dari ayat tersebut dapat kita\npahami, bahwa nabi Ibrahim as tidak cukup dengan hanya melaksanakan perintah,\nia bahkan berpesan pada anaknya agar meniti jalan yang ia lalui dan berpesan\npula kepada cucunya, Ya\u2019qub.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini merupakan prinsip yang pada\nzaman sekarang ini justru banyak diabaikan. Banyak orang tua yang gelisah tentang\nmasa depan anaknya. Akan tetapi kegelisahan tersebut \u201chanya\u201d seputar materi\nsaja. Apabila nabi Ibrahim merisaukan masa depan anak-anaknya dengan sering\nmengatakan <em>maa ta\u2019buduna mimba\u2019di?<\/em> Apa yang akan engkau (wahai\nanak-anakku) sembah sepeninggalku? Kita justru lebih banyak risau dengan memikirkan\n<em>maa ta\u2019kuluna mimba\u2019di? <\/em>(Apa yang akan engkau makan sepeninggalku?).<\/p>\n\n\n\n<p>Hal tersebut tidak sepenuhnya salah,\nyakni dengan menyiapkan bekal materi demi anak-anak kita kelak. Akan tetapi,\napabila hal tersebut menjadi prioritas utama bahkan menjadi satu-satunya\nprioritas atau tujuan dalam hidup, maka generasi yang lahir setelah kita tidak akan\nmemiliki landasan akidah yang kuat sebagai pondasi kehidupannya. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. <\/strong><strong>Senantiasa membangun komunikasi\nintensif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah menanamkan nilai-nilai ketauhidan,\nhal yang tidak kalah penting dalam proses pendidikan akhlak adalah membangun\nkomunikasi yang intensif dengan cara yang komunikatif. Sebab, interaksi antara\nanak dan orang tua, diakui atau tidak merupakan proses penanaman pendidikan\nakhlak yang dialami secara langsung oleh seorang anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contohnya kita dapat\nmengambil <em>ibrah <\/em>dari peristiwa kurban yang dialami oleh nabi Ibrahim as\ndan anaknya. Dalam QS as-Saffat: 102, Allah swt berfiman:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cMaka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: &#8220;Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!&#8221; Ia menjawab: &#8220;Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar&#8221;.<\/em><\/p><cite>(Q.S. as-Saffat: 102)<\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Sebuah percakapan singkat antara\norang tua dan anak, akan tetapi memiliki samudera hikmah yang tiada ada\nhabisnya untuk terus kita selami.<\/p>\n\n\n\n<p>Ucapan nabi Ibrahim as: \u201cmaka\npikirkanlah bagaimana pendapatmu\u201d merupakan sebuah contoh komunikasi yang\nkonsultatif, yakni meminta tanggapan sang anak atas sebuah permasalahan. Nabi\nIbrahim as, walaupun mendapatkan perintah dari Allah tidak lantas serta merta\nmenyampaikannya dengan sikap yang otoritatif, atau dengan nada yang instruktif;\nmelainkan justru dengan cara yang demokratis, berdialog, dan tidak memaksa. Gaya komunikasi tersebut secara tidak langsung telah memosisikan anak\nsebagai manusia yang mampu berfikir dan berakal, bukan sebagai benda yang\n\u201chanya\u201d menuruti kemauan orang tuanya semata. Gaya komunikasi nabi Ibrahim as,\ndalam bahasa modern biasa disebut dengan memanusiakan manusia, atau humanisasi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3.\n<\/strong><strong>Menyiapkan lingkungan yang kondusif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\npendidikan akhlak, lingkungan (<em>environment<\/em>) memberikan pengaruh terhadap\npertumbuhan jiwa\ndan kepribadian anak. Baik dan buruknya perkembangan fisiologis, psikologis,\ndan sosio-kultural seorang anak, sedikit banyaknya dipengaruhi oleh\nlingkungannya. Lingkungan memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kesadaran\ndan mengembangkan kepribadian yang berakhlak. Dalam QS Ibrahim: 35, Allah swt\nberfirman:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cDan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: &#8220;Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala\u201d.<\/em><\/p><cite>(Q.S. Ibrahim: 35)<\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Dalam ayat ini, sebagaimana\ndijelaskan oleh Quraih Shihab dalam tafsirnya, bahwa setelah nabi Ibrahim as\nselesai membangun Ka\u2019bah ia berharap agar ia dan keturunannya dapat hidup\ndengan kondisi sosial yang aman, dapat mengambil pelajaran (dari umat terdahulu)\ndan meninggalkan kesyirikan kepada Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu pelajaran yang dapat\ndiambil yakni sebagaimana yang dialami oleh kaum Ad, Tsamud, dan Fir\u2019aun. Kaum\nAd mampu membangun bangunan yang luar biasa indah, kaum Tsamud sangat ahli\ndalam seni lukis dan pahat, sedangkan kaum Fir\u2019aun sangat ahli dalam teknologi.\nAkan tetapi dikarenakan kemungkaran dan kemusyrikan yang mereka perbuat kepada\nAllah, pada akhirnya justru menjadi sebab dari hal ihwal kebinasaannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, menempatkan anak dalam\nlingkungan yang kondusif, lingkungan yang dapat menjaga nilai-nilai ketauhidan\nyang telah ditanamkan oleh orang tua, adalah sebuah keharusan. Berawal dari\nkesadaran ini pulalah yang menjadikan Unissula konsisten dalam menerapkan\nlingkungan yang ber-BudAI (Budaya Akademik Islami).<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, nilai-nilai\npendidikan yang diajarkan oleh nabi Ibrahim as kepada anak-anaknya memiliki\nsebuah orientasi yang jelas, yakni <em>ta\u2019abbud ila Allah<\/em> (beribadah kepada\nAllah). Bagaimanapun dan akan menjadi apapun nantinya seorang anak ketika\ntumbuh dan berkembang, harus memiliki sebuah pijakan yang kuat dan jelas.\nIbarat sebuah pohon, hanya pohon dengan akar yang kuat dan kokohlah yang mampu\ntumbuh dan menghasilkan batang pohon yang kuat pula. Tidak hanya itu, ia juga\nmampu menghasilkan buah dan dapat bertahan dari terpaan angin yang mencoba\nuntuk menumbangkannya. <em>Wallahu a\u2019alamu bisshawab<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Oleh : <strong>Ahmad Muflihin, S.Pd.I., M.Pd.<\/strong> &#8211; Dosen Pendidikan Agama Islam UNISSULA<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam Islam, akhlak memiliki kedudukan yang sangat penting. Dalam salah satu haditsnya, nabi Muhammad saw bersabda \u201cSesungguhnya aku (Muhammad) diutus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2823,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2819","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"Dalam Islam, akhlak memiliki kedudukan yang sangat penting. Dalam salah satu haditsnya, nabi Muhammad saw bersabda \u201cSesungguhnya aku (Muhammad) diutus [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2819","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2819"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2819\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2819"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2819"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2819"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}