{"id":2794,"date":"2019-08-05T08:37:57","date_gmt":"2019-08-05T01:37:57","guid":{"rendered":"https:\/\/ybw-sa.org\/?p=2794"},"modified":"2019-08-05T08:37:57","modified_gmt":"2019-08-05T01:37:57","slug":"puasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/puasa\/","title":{"rendered":"PUASA"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/shh-1024x528.jpg\" alt=\"\" data-id=\"1905\" data-link=\"https:\/\/ybw-sa.org\/2016\/09\/bahaya-lisan\/man-holding-hand-over-his-mouth\/\" class=\"wp-image-1905\"\/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Ketahuilah\nbahwa sesungguhnya agama itu terbagi menjadi&nbsp;\ndua , salahsatu dari&nbsp; keduannya\nadalah meninggalkan apa-apa yang telah dilarang oleh Allah <em>Subkhanu wa ta\u2019ala<\/em> dan yang selanjutnya adalah melakukan ketaatan\nkepada Allah <em>Subkhanu wa ta\u2019ala<\/em>. Sesunggguhnya\ntaat dalam menjalankan perintah Allah <em>Subkhanu\nwa ta\u2019ala<\/em> adalah hal yang mampu dilakukan setiap orang yang beriman karena\nsesungguhnya tuhan menghendaki kemudahan, dan meninggalkan apa &#8211; apa yang\ndilarang oleh Allah akan teramat sulit dan berat kecuali orang &#8211; orang yang\nberiman dengan sebenar benarnya iman, dan jika kita sudah melakukan apa yang\ndiperintah oleh Allah <em>Subkhanu wa ta\u2019ala<\/em>\njangan kita lantas merasa puas dengan itu karena bisa jadi hati kita, niat kita\nhanya menjalankan perintahnya saja bukan semata-mata mengabdikan diri kita\nmencari ridho Allah <em>Subkhanu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketahuilah\nbahwa hidup ini adalah amanah yang diberikan oleh Allah <em>Subkhanu wa ta\u2019ala<\/em> dan jika kita bermaksiat dengan angota badan\nkita, sedang kita sadar dan mengetahui bahwa itu adalah perbuatan yang melangar\nperintahnya maka sesungguhnya kita telah mendustakan nikmat yang telah Allah\nanugrahkan kepada kita, berupa kehidupan ini, dan sesungguhnya ketika kita\nmengunakan nikmat dan amanah hidup ini untuk berbuat kemaksiatan maka\nketahuilah sesungahnya kita sedang berdurhaka kepada Allah <em>Subkhanu wa ta\u2019ala<\/em>, durhaka dan penghianatan terhadap nikmat dan\namanah yang diberikan kepada kita, sebab angota badan kita adalah tanggung\njawab kita oleh karenannya berhati hatilah dalam menjaga anugrah kehidupan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Rosullullah\nbersabda yang artinya : \u201cSemua dari kalian adalah pemimpin dan semuanya akan ditanya\ntentang tanggung jawabnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ketahulilah\nbahwa seluruh angota tubuh kita akan bersaksi atas perbuatan kita kelak\ndipengadilan hari kiamat, semuanya akan berbicara dengan bahasa yang lancar dan\njelas untuk bersaksi atas perbuatan kita didunia. <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201c Pada hari ( ketika ) lidah , tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan .\u201d<\/em><\/p><cite> <em> ( QS. An-Nuur\/24:24 )<\/em> <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cpada hari ini kami tutup mulut mereka , tangan mereka akan berkata kepada kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.\u201d<\/em><\/p><cite> <em>(QS . Yasiin \/36:65)<\/em> <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Salah\nsatu perintah Allah yang wajib kita kerjakan adalah puasa di bulan Ramadhan, dan\nitu merupakan Rukun Islam yang ke-empat dari Rukun-rukun Islam yang lima ,\nsekarang kita sudah memasuki bulan Sya\u2019ban dan sebentar lagi kita akan\nmelaksanakan Rukun ISLAM yang ke-empat itu yaitu Puasa Ramadhan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pengertian Puasa &nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puasa\nsecara etimologi berarti<em> \u201cal-imsak \u201c<\/em>(menahan) yaitu menahan diri dari\nsegala apa yang bisa membatalkan puasa, sedangkan secara istilah (terminologi)&nbsp; puasa adalah menahan diri kita dari hal-hal\nyang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri (<em>Jima\u2019<\/em>)&nbsp;\ndari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan syarat-syarat\ntertentu <\/p>\n\n\n\n<p>Konsepsi\npuasa dalam pemaknaan istilah seringkali dimaknai dalam pengertian sempit\nsebagai prosesi menahan lapar, haus dan berhubungan intim serta hal-hal yang\nmembatalkan puasa di bulan Ramadhan, padahal jika kita lebih menghayati dalam\nmemaknai puasa yang sebenarnya adalah menahan diri untuk melakukan perbuatan\nyang dilarang oleh agama, selain itu puasa juga memberikan gambaran atau\nilustrasi tentang solidaritas orang islam atas orang orang yang kurang mampu\nuntuk mencukupi dirinya atau dalam kondisi miskin, dalam konteks ini interaksi\nsosial bisa digambarkan pada kelaparan dan kehausan yang diderita orang yang\nkurang mampu tersebut sehinga menimbulkan dampak tengang rasa saling merasakan\nkepedulian penderitaan yang mereka alami, dan pengkajian tentang hakikat puasa sebenarnya\nakan mencangkup banyak hal baik kesehatan, interaksi sosial, keagamaan,dll. <\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah <em>Shallallahu\n\u2018alaihi wa sallam<\/em> telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa\nadalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Allah <em>Tabaraka wa Ta&#8217;ala<\/em> telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang\nyang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari\nkebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala\nyang besar, keutamaan yang agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadis-hadis\nshahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari Abu Umamah Al-Bahili <em>Radhiyallahu &#8216;anhu<\/em>, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> bersabda\n(yang artinya) <em>: \u201cKetika aku tidur, datanglah dua orang pria kemudian\nmemegang kedua lenganku, membawaku ke satu gunung yang kasar (tidak rata),\nkeduanya berkata, &#8220;Naik&#8221;. Aku katakan, &#8220;Aku tidak mampu&#8221;.\nKeduanya berkata, &#8216;Kami akan memudahkanmu&#8217;. Akupun naik hingga sampai ke puncak\ngunung, ketika itulah aku mendengar suara yang keras. Akupun bertanya, &#8216;Suara\napakah ini?&#8217;. Mereka berkata, &#8216;Ini adalah teriakan penghuni neraka&#8217;. Kemudian\nkeduanya membawaku, ketika itu aku melihat orang-orang yang digantung dengan\nkaki di atas, mulut mereka rusak\/robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku\nbertanya, &#8216;Siapa mereka?&#8217; Keduanya menjawab, &#8216;Mereka adalah orang-orang yang\nberbuka sebelum halal puasa mereka (sebelum tiba waktu berbuka .&#8221; [Riwayat\nAn-Nasa&#8217;i dalam Al-Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 4\/166 dan Ibnu\nHibban (no.1800 zawaid-nya) dan Al-Hakim 1\/430 dari jalan Abdurrahman bin Yazid\nbin Jabir, dari Salim bin &#8216;Amir dari Abu Umamah. Sanadnya shahih]. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pensyariatan Puasa dalam Islam<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Para ulama\u2019\nsepakat bahwa puasa itu diwajibkan pada bulan Sya\u2019ban tahun kedua Hijrah,\nRasullullah membolehkan bagi orang sakit dan bagi orang yang dalam perjalanan\ntidak berpuasa akan tetapi&nbsp; wajib men<em>qadha<\/em>nya di waktu yang lain dan beliau\nmembolehkan wanita yang sedang mengandung dan yang sedang menyusui anak tidak\nberpuasa, dengan memberi <em>fidyah<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Di antara\npetunjuk Rasulullah ialah tidak memasuki puasa Ramadhan melainkan dengan nyata-nyata\ntelah melihat bulan, atau dengan kesaksian seseorang yang adil, apabila tidak\nterlihat bulan dan tidak ada kesaksian tentang telah ada bulan, beliau menyempurnakan\nbulan Sya\u2019ban 30 hari.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Syarat dan\nrukun puasa<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>1.\u00a0 Syarat \u2013Syarat puasa adalah Islam, Baligh, Berakal (tidak gila atau mabuk), lelaki atau perempuan (Suci dari haid dan nifas bagi perempuan), tidak dalam safar (tidak wajib bagi orang musafir), Sanggup puasa (tidak wajib bagi orang yang sakit dan orang yang lemah).<\/p>\n\n\n\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rukun puasa adalah menahan diri\ndari segala yang membatalkan puasa, semenjak terbit fajar hingga terbenam\nmatahari.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hal-hal yang\nmembatalkan puasa<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>1. &nbsp;Makan dan\nminum dengan sengaja<\/p>\n\n\n\n<p>2. Sengaja\nmemasukan sesuatu benda kedalam rongga anggota\ntubuh yang terbuka, meskipun benda itu &nbsp;kecil, seperti mulut, hidung, telinga dan kemaluan<\/p>\n\n\n\n<p>3.&nbsp;Muntah yang disengaja walaupun sedikit, jika tidak disengaja, maka\npuasanya tidak batal.<\/p>\n\n\n\n<p>4.&nbsp;Bercampur (jima\u2019) \/ berhubungan seksual <\/p>\n\n\n\n<p>5. Keluar air mani dengan sengaja, Adapun apabila keluar mani sebab mimpi, maka tidak membatalkan puasa <\/p>\n\n\n\n<p>6. Gila atau\nhilang akal <\/p>\n\n\n\n<p>7. Wanita\nyang mengalami haid atau nifas&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>8. Murtad <\/p>\n\n\n\n<p>Dan jangan menyangka ketika berpuasa bahwa\nsesungguhnya puasa itu hanya meninggalkan makan , minum, dan berhubungan intim\nsaja, karena Rasullullah pernah bersabda yang artinya : <em>\u201cBanyak sekali orang\nyang berpuasa dan tidak dapat apa-apa dari puasanya kecuali hanya mendapatkan\nlapar dan haus\u201d.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi kesempurnaan puasa adalah dengan menjaga\nseluruh angota tubuh dari perkara yang dibenci oleh Allah <em>Subkhanu wa ta\u2019ala<\/em>, sayogjanya menjaga mata dari melihat hal yang\ndibenci Allah, menjaga lisan dari mengucapkan hal yang tidak bermanfaat ,\nmenjaga telinga dari mendengarkan hal yang diharamkan oleh Allah <em>Subkhanu wa ta\u2019ala<\/em> seperti mendengarkan\ngibah dll, dan juga tentunya menjaga semua angota tubuh seperti perus dan\nkemaluan dari hal yang diharamkan oleh Allah <em>Subkhanu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam khobar yang Artinya : lima hal yang dapat\nmembatalkan seseorang yang sedang berpuasa : yaitu Berbohong, gibah (\nmengunjing ), Mengadu domba, melihat dengan syahwat, berjanji yang bohong (\ningkar Janji ).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketahuilah bahwa sesungguhnya agama itu terbagi menjadi&nbsp; dua , salahsatu dari&nbsp; keduannya adalah meninggalkan apa-apa yang telah dilarang oleh Allah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1905,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2794","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":2,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"Ketahuilah bahwa sesungguhnya agama itu terbagi menjadi&nbsp; dua , salahsatu dari&nbsp; keduannya adalah meninggalkan apa-apa yang telah dilarang oleh Allah [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2794","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2794"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2794\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2794"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2794"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2794"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}