{"id":2790,"date":"2019-08-02T11:27:46","date_gmt":"2019-08-02T04:27:46","guid":{"rendered":"https:\/\/ybw-sa.org\/?p=2790"},"modified":"2019-08-02T11:27:46","modified_gmt":"2019-08-02T04:27:46","slug":"shalat-sebagai-pencegahan-terhadap-gangguan-kejiwaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/shalat-sebagai-pencegahan-terhadap-gangguan-kejiwaan\/","title":{"rendered":"Shalat Sebagai Pencegahan Terhadap Gangguan Kejiwaan"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/456.png\" alt=\"\" data-id=\"2791\" data-link=\"https:\/\/ybw-sa.org\/?attachment_id=2791\" class=\"wp-image-2791\"\/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cJadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu\u2019, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya\u201d .<\/em><\/p><cite> <em>[al Baqarah: 45-46]<\/em> <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Setiap manusia yang mengaku hamba\nAllah tentu telah terbiasa melaksanakan ibadah-ibadah terutama ibadah mahdhah. Apabila\nshalat wajib yang lima waktu kita tinjau dari segi kesehatan mental, maka akan\ndapat kita pahami mengapa shalat itu diwajibkan Allah dan apa sebab mengapa\njumlahnya lima kali dalam shari semalam, mengapa waktu bagi masing-masingnya\nditentukan pula dan tidak boleh didahului dan tidak boleh dilampaui. Ibadah\nshalat adalah ajaran agama yang diwahyukan dari Al-Qur\u201fan kepada Nabi Muhammad saw. Karena\nitu ibadah shalat pasti mempunyai banyak hikmah didalamnya. Kalau kita pelajari\nal-qur\u201fan dan as-sunnah maka\nakan kita temukan penjelasan tentang hikmah dari pelaksanaan shalat,\ndiantaranya yaitu pengaruh pelaksanaan terhadap kesehatan mental manusia. Dalam\nshalat terjadi hubungan rohani atau spiritual antara manusia dengan Allah.\nDalam aksi spiritualisasi islam, shalat dipandang sebagai munajat (berdoa dalam\nhati dengan khusu\u201f) kepada Allah. Orang\nyang sedang shalat, dalam melakukan munajat, tidak merasa sendiri. Ia merasa\nseolah-olah berhadapan dengan Allah, serta didengar dan diperhatikan\nmunajatnya. Suasana spiritualitas shalat yang demikian, dapat menolong orang\nmengungkapkan segala perasaan, keluhan dan permasalahannya kepada Allah. Dengan\nsuasana shalat yang khusu\u201f itu pula orang\nmemperoleh ketenangan jiwa karena merasa diri dekat dengan Allah dan meperoleh\nampunannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibadah shalat didalamnya terdapat\nbacaan-bacaan atau gerakan-gerakan shalat. Bacaan-bacaan shalat semuanya\nmerupakan doa dan dzikir yang berisi ucapan-ucapan mulia dan indah yang\nmengandung pujian dan sanjungan kepada Allah sebagai pencipta dan juga\nbacaan-bacaan shalat berisi permohonan manusia akan hajatnya dalam kehidupan di\ndunia dan akhirat. Permohonan manusia akan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan\nhidupnya atau hajatnya dalam kehidupan di dunia dan di akhirat dimohonkan\nkepada Allah lewat pelaksanaan shalat. Sebagaimana firman Allah dalam surat\nAl-Mukminun: 60 dan surat al-Baqarah: 186 yang artinya:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201c<em>Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka<\/em>\u201d<\/p><cite> (QS. al-Mu\u201fminun: 60) <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Dengan shalat manusia berdoa\nmenyerahkan diri kepadaNya. Hal ini akan membantu dalam meredakan ketegangan\nemosi manusia, karena seorang mu\u201fmin\nmempunyai keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan do\u201fanya dan memecahkan\nproblem-problemnya, memenuhi berbagai macam kebutuhannya dan membebaskan diri\ndari kegelisahan dan kerisauan yang menimpanya. Menghadap kepada Allah melalui\nshalat dan beroda kepadaNya dengan harapan dikabulkan akan menimbulkan\notosugesti yang akan meredakan ketegangan emosi dan kegoncangan jiwa yang\nterjadi pada manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Manusia dalam kehidupannya selalu\nmenghadapi berbagai macam problem dan cobaan hidup, hal yang tidak menyenangkan\nselalu terjadi. Dan dengan melaksanakan shalat lima waktu dengan khusu\u201f dan dilaksanakan secara terus\nmenerus maka dapat dihindari perasaan yang tidak mengenakkan di hati, karena\nmanusia selalu mengungkapkannya lima kali sehari melalui ibadah shalat dengan\nkeyakinan bahwa pengungkapannya langsung didengar, dipahami dan diperhatikan\noleh Allah karenaAllah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sedangkan bagi orang\nyang rajin shalat sunnah, akan merasakan ketenangan dan ketntraman batin yang\nlebih karena intensitas pengungkapan perasaan dan permohonan manusia dilakukan\nlebih sering, lebih dari lima kali sehari. Pada saat seseorang sedang shalat,\nmaka seluruh alam fikiran dan perasaannya terlepas dari semua urusan dunia yang\nmembuat dirinya stress. Sesaat jiwanya tenang, ada kedamaian dalam hatinya. Hal\nini sejalan dengan pendapat para pakar stress yang menganjurkan orang agar memluk\nagama, menghayati dan mengamalkannya agar memperoleh ketenangan. Dan setiap\nharinya harus meluangkan waktu untuk menenankan diri, karena dengan ketenangan\nhati yang diperolehnya setiap hari berarti kekebalan dirinya terhadap berbagai\nstress atau gangguan kejiwaan dapat ditingkatkan. <\/p>\n\n\n\n<p>Cukup logis bahwa ajaran agama\nmewajibkan penganutnya untuk melaksanakan ajarannya secara rutin. Bentuk dan\npelaksanaan ibadah agama, paling tidak akan dapat berpengaruh dalam menanamkan\nkeluhuran budi yang pada puncaknya akan menimbulkan rasa sukses sebagai\npengabdi. Tindak ibadah setidak-tidaknya akan memberi rasa bahwa hidup menjadi\nlebih bermakna. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kesatuan jasmani dan\nrohani secara tak terpisahkan memerlukan perlakuan yang dapat memuaskan\nkeduanya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Sekarang timbul pertanyaan: \u201capa hikmah yang\nterkandung dalam kewajiban shalat pada waktu yang telah ditetapkan tidak boleh\ndidahului, ditunda, atau digabungkan?\u201d Jawaban terhadap pertanyaan ini sangat\npenting agar seorang muslim mau melaksanakan shalat pada waktunya dan tidak\nmeremehkannya. Lewat analisis kejiwaan bahwa shalat wajib yang lima waktu itu\nmempunyai fungsi pengobatan atau fungsi kuratif terhadap gangguan kejiwaan.\nMaka kita temukan fungsi kejiwaan lainnya bagi shalat wajib yang harus\ndilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Shalat subuh dan maknanya bagi\npencegahan terhadap gangguan dan penyakit kejiwaan (fungsi preventif).<\/p>\n\n\n\n<p>Pada waktu subuh batin orang yang\nbangun tidur itu masih lega, belum menghadapi persoalan, belum ada yang dikeluh\nkesahkan. Maka dalam memasuki hari itu, setiap orang ingin merasa terjamin\nketentraman dan kemanan hidupnya sepanjang hari nanti. Untuk itulah ia perlu\nmemohon kepada Yang Maha Kuasa, agar ia selamat dan tidak terganggu dalam\nmenjalani tugasnya selama satu hari nanti. Allah mewajibkan shalat subuh karena\ndengan shalat itu hubungan batinnya dengan Allah akan diperkuat, ia ingat bahwa\nAllah maha penyayang, Allah dekat dan senantiasa melindungi. Dengan demikian\nhati mereka merasa tentram dan aman dalam perjalanan hidupnya hari itu. Dengan\nrasa aman dan lega itu, daya pikir akan dapat digunakan untuk melaksanakan\ntugas dengan baik, apakah belajar, bekerja atau mencari pekerjaan. Maka orang\nyang telah melaksanakan shalat secara baik akan menghadapi tugasnya dengan\noptimis dan gembira. <\/p>\n\n\n\n<p>Shalat dzuhur dan maknanya bagi\npencegahan terhadap gangguan dan penyakit kejiwaan (fungsi preventive). Setiap\nmuslim yang melakukan shalat dengan perasaan lega dan optimis menghadapi tugas\ndan pekerjaannya dipagi hari. Kendati pun ia telah memulai pekerjaannya dengan\nsenang hati, namun kadang-kadang terjadi pula hambatan, rintangan yang tidak\ndiperhitungkan sebelumnya. Rencana dan pembagian waktu yang telah direncanakan\nuntuk menghadapi pekerjaan sehari itu terganggu. Menurut perhitungan kejiwaan,\nbila perasaan tidak tenang dan pikiran penuh dengan berbagai masalah yang tidak\nterselesaikan, maka daya pikir akan menurun atau bahkan mungkin tidak bekerja.\nSedangkan apabila orang tersebut mengalami masalah-masalah yang agak\nmenyakitkan, menggelisahkan dan mencemaskan, maka semua itu tidak dapat hilang\nhanya dengan istirahat siang selama 1 jam yang diberikan kantor. Hal tersebut\nharus di atasi dengan pelegaan batin yang dapat dilakukan dengan shalat dzuhur.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah barangkali hikmahya mengapa\nshalat dzuhur itu wajib dan tidak boleh ditunda sampai terlewat waktunya.\nSeseorang yang lelah bekerja dan menghadapi berbagai hal yang mengganggu sejak\npagi akan merasa agak segar apabila bersuci dan berwudhu. Sedangkan pelaksanaan\nshalat dzuhur akan memberikan kelegaan dan ketentraman seperti yang telah\ndiuraikan sebelumnya. Shalat ashar dan maknanya bagi pencegahan terhadap\ngangguan dan penyakit kejiwaan (fungsi preventive) Kemampuan jasmani\nberaktivitas atau bekerja pada waktu siang hari dalam keadaan panas, memang\ntidak sekuat pagi hari lagi. Kesegaran jasmani menurun, kemampuan berfikir agak\nberkurang, sebaliknya emosi mudah terangsang. Oleh karena itu mausia diwajibkan\nkembali shalat, yaitu shalat asar dan menghadap kembali pada Allah, untuk\nmemohon ampun, berdoa dan mengadukan perasaan yang tidak menyenangkan. Dari\nsana dapat kita lihat bahwa fungsi sholat asar sebagai pencegah gangguan\nkejiwaan adalah dengan sholat asar, syaraf-syaraf dan otot-otot yang tegang\nkarena bekerja di waktu siang hari dapat kembali regang dan rileks. Sehingga\ndengan begitu, kondisi fisik dan psikis manusia tetap terjaga. Shalat maghrib\ndan maknanya bagi pencegahan terhadap gangguan dan penyakit kejiwaan (fungsi\npreventive). Pada waktu pergantian siang dan malam, yang kadang-kadang mencekam\njiwa, terutama bagi mereka yang merasa kurang berhasil mengerjakan tugasnya.\nSetelah matahari terbenam, azan magrib bekumandang. Rupanya Allah memberi\nkesempatan bahkan mewajibkan kepada manusia untuk menghadap kepadaNya guna\nmenunaikan kewajiban pemersihan diri dari berbagai masalah yang menyesakkan\ndada, serta memohon ampun atas kekhilafan dan kesalahan dalam perjalanan hidup\nseharian tadi, dan selanjutnya bersyukur atas segala keberhasilan yang\ndicapainya pada hari itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian terlepaslah dirinya\ndari berbagai macam hal yang mengganggu perasaan, dan ini jelas merupakan\npencegahan terhadap gangguan kejiwaan. Shalat isya dan maknanya bagi pencegahan\nterhadap gangguan dan penyakit kejiwaan (fungsi preventive) Agar tidur nyenyak,\nmohonlah perlindungan kepada Allah agar dijaga Nya selama tidur. Buatlah\nperhitungan terhadap pekerjaan sehari tadi, mulai dari bangun tidur sampai\nkepada malam menjelang tidur kembali. Inilah tempat kita muhasabah diri dan\nintrospeksi diri. Sehingga jika ada keberhasilan, kita dapat bersyukur, dan\napabila banyak hal yang belum tercapai kita mohonkan kepada Allah jalan\nkeluarnya. Hal ini dilakukan agarhati menjadi tenang dan semua anggota tubuh\nserta pikiran dapat beristirahat secara maksimal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Oleh : Ns. Makdum Alaidin, S.Kep &#8211; Staf Kesehatan dan Dakwah YBWSA<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cJadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu\u2019, (yaitu) orang-orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2791,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2790","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":3,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"\u201cJadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu\u2019, (yaitu) orang-orang [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2790","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2790"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2790\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2790"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2790"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2790"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}