{"id":2775,"date":"2019-07-17T10:28:25","date_gmt":"2019-07-17T03:28:25","guid":{"rendered":"http:\/\/ybw-sa.org\/?p=2775"},"modified":"2019-07-17T10:28:25","modified_gmt":"2019-07-17T03:28:25","slug":"tabayyun-di-era-disrupsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/tabayyun-di-era-disrupsi\/","title":{"rendered":"Tabayyun  Di Era Disrupsi"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/digital_economy_2018_03_08_143438_big.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2777\" data-link=\"http:\/\/ybw-sa.org\/?attachment_id=2777\" class=\"wp-image-2777\"\/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cWahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.\u201d<\/em><br><\/p><cite> (QS. Al-Hujur\u00e2t : 6) <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Imam Abu\nHanifah pernah dituduh sesat karena pemikirannya yang mengembangkan nalar\nkritis disamping dalil Al Quran dan As Sunnah untuk menyimpulkan hukum fiqh.\nTuduhan itu tersebar dari Khurasan hingga ke Syam. Imam Al Auza\u2019i dan Imam\nIbnul Mubarak yang berada di Syam juga mendengar kabar burung itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Imam Al\nAuza\u2019i kemudian bertanya kepada Imam Ibnul\nMubarak <em>\u201cSiapa ahli bid\u2019ah yang bernama Abu Hanifah ?<\/em><em> <\/em><em>\u201d<\/em> Kemudian\nIbnul Mubarak mencari tahu tentang Imam Abu Hanifah, dan ia mendapati\nkitab-kitabnya. Ia kemudian membaca salah satu kitab Abu Hanifah, kemudian\nmempelajarinya selama tiga hari. Setelah itu ia kembali kepada Imam Al Auza\u2019i dan\nmemberikan kitab yang telah dipelajarinya. Al Auza\u2019i kemudian membacanya dan ia\nberkata kepada Ibnul Mubarak, <em>\u201cSiapa penulis kitab ini ? Kau harus belajar\nbanyak darinya\u201d<\/em><em>\n<\/em>lalu Imam\nIbnul\nMubarak menjawab<em>\u201cDia\nadalah Nu\u2019man bin Tsabit, atau Abu Hanifah yang pernah kau anggap sesat\u201d<\/em><em>.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Mereka\nberdua kemudian menemui Imam Abu Hanifah, yang saat itu sedang berada di Mekah.\nMereka bertiga lantas berdiskusi tentang banyak hal, termasuk masalah aqidah\ndan fiqh.<br>\nSetelah pertemuan mereka selesai, Ibnul Mubarak bertanya kepada Al Auza\u2019i,\n\u201cbagaimana pendapatmu tentang Abu Hanifah ?\u201d. Al Auza\u2019i menjawab<em>, \u201cAku iri kepadanya karena\nbanyaknya ilmu yang ia kuasai dan kecerdasan pemikirannya. <\/em><em>Dan\naku memohon ampun kepada Allah karena aku telah salah menilai. Sering-seringlah\nbersamanya karena ia sama sekali tidak seperti yang aku dengar selama ini\u201d.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kisah tersebut\nadalah gambaran nyata bahwa prasangka seringkali mengaburkan pandangan manusia\ntentang baik-buruknya pribadi seseorang. Saat ini Imam Abu Hanifah dipuji dan\ndiikuti sebagai salah seorang imam madzhab oleh jutaan umat Islam di berbagai\nnegara, tapi dia pernah menjadi korban prasangka orang-orang yang belum\nmengenal dan memahami pemikirannya dengan baik. Oleh karena itu Islam mengajarkan kita untuk selalu bertabayyun,\nmengklarifikasi sebuah berita, atau pendapat seseorang langsung kepadanya\nsebelum mengambil kesimpulan tentang benar dan salahnya pendapatnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Imam Bukhari\njuga pernah dituduh mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluk, padahal dia tak\npernah mengatakannya. Kabar itu juga diyakini oleh beberapa ulama di Naisabur,\nyang tak meminta penjelasan Imam Bukhari, sehingga mereka mengeluarkan fatwa\nsesat terhadapnya. Akhirnya untuk menghindari konflik dan fitnah yang semakin\nmeluas, sang Imam harus meninggalkan Naisabur.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cWahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah barang tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allaah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang.\u201d<\/em> <br><\/p><cite> [QS. Al-Hujur\u00e2t :12]. <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Itulah\nbahayanya jika kabar burung diyakini dan disebarkan tanpa mau melakukan\nklarifikasi atau tabayyun terhadap orang yang bersangkutan. Penjelasan\ndari satu pihak yang mengadu tanpa tabayyun kepada yang diadukan, dapat\nmenyebabkan keruhnya pandangan kita terhadap seseorang yang asalnya bersih,\nsehingga kita berburuk sangka kepadanya, enggan bertemu dan bahkan\nmemboikotnya, dan akibat yang ditimbulkannyapun meluas. Jika dalam perdagangan\nbisa menurunkan omzet, dalam pergaulan menurunkan simpati, dalam dakwah\nmenjadikan ummat tidak mau menerima nasihat dan pelajaran yang disampaikannya,\nbahkan bisa sampai pada anggapan bahwa semua yang diajarkannya dianggap tidak\nbenar. Jika demikian, maka yang mendapat kerugian ialah ummat.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini,\nkita memasuki era disrupsi, dimana banyak hal telah tercabut dari akarnya.\nInternet menggantikan banyak sistem dan budaya konvensional. Aktivitas di dunia\nmaya telah mampu menggantikan apa yang tadinya harus dilakukan di dunia nyata. Dulu untuk\nbisa bersilaturahmi atau memberi kabar kepada orang lain, seseorang harus\nmenemui orang yang bersangkutan, namun sekarang dengan kecanggihan teknologi\ninformasi dan komunikasi, dua orang yang terpisah jarak ribuan kilometer, bisa\nsaling menatap wajah masing-masing dengan media video call.<\/p>\n\n\n\n<p>Informasi di\nera disrupsi ini, telah mampu diakses siapa saja. Saat ini yang terjadi adalah\nbanjir informasi. Kejadian apapun di berbagai belahan dunia ini bisa diketahui\nsiapapun kapanpun dan dimanapun dengan hanya berbekal <em>smartphone<\/em> dalam\ngenggamannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Manusia\ndimudahkan untuk melakukan dan mengetahui apapun. Ini adalah kemudahan di satu\nsisi, tapi ada banyak hal yang hilang di sisi lain, salah satunya sikap\nhati-hati dan rendah hati,\nKarena informasi tak lagi sulit didapatkan, siapapun bisa tahu\nsegalanya. Namun siapa yang bisa memastikan bahwa informasi yang diterima\nadalah benar adanya ? Apalagi jika sudah terlalu banyak \u201cbumbu komentar\u201d yang\nmenguatkan atau melemahkan sebuah pendapat atau berita meskipun itu belum tentu\nbenar atau salah.\nWalhasil banyak konflik baik di dunia nyata ataupun maya yang terjadi\nkarena adanya berita yang mudah tersebar tanpa hambatan apapun. Sikap hati-hati\ndalam menyebarkan berita yang belum jelas, adalah korban era disrupsi yang\nmungkin akan segera atau mungkin sudah tercabut dari alam pikiran manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kerendahan\nhati untuk mau mengakui kekurangan diri dan menahan diri untuk berkomentar juga\nseakan hampir \u201cpunah\u201d. Setiap orang bisa menanggapi siapapun tanpa berpikir\npanjang, dan bertabayyun terlebih dahulu. Lihat saja di Youtube, Instagram,\nFacebook dan media sosial lainnya. Ada banyak video yang mengomentari pendapat\norang lain, baik yang menyalahkan atau membenarkannya. Akan tetapi yang\nmengomentari dan yang dikomentari tidak pernah bertemu, berdiskusi, berdialog,\nmencari titik temu diantara keduanya. Yang lebih parah lagi, banyak ulama yang pendapatnya\ndikomentari orang yang entah seberapa dalam penguasaannya dalam ilmu agama.\nKomentar yang mengkritik menjadi lebih salah daripada yang dikritik, namun itu\nbisa viral dan dianggap benar oleh mereka yang juga tak paham perbedaan antara\n\u201cberlian\u201d dan \u201cbatu kerikil\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Imam Al\nGhazali sebelum menggugat para filosof, selama bertahun-tahun ia mempelajari\nilmu filsafat, dan berdiskusi dengan para filosof dengan menggunakan pikiran\nmereka. Barulah ia menulis buku pengantar ilmu filsafat yang berjudul \u201c<em>Maqashidul\nFalasifah<\/em>\u201d. Kemudian ia kembali melakukan penelitian tentang ilmu filsafat,\nhingga sampai pada kesimpulan yang mengkritik filsafat. Barulah ia menulis \u201c<em>Tahafutul\nFalasifah<\/em>\u201d, Kerancuan Para Filosof yang merupakan kritik terhadap pemikiran\npara filosof yang terpengaruh filsafat Yunani. Begitu hati-hati dan rendah hatinya Imam Al Ghazali\nsehingga judul bukunya pun tidak menggunakan kata \u201ckesesatan\u201d, tapi \u201c<em>At\nTahafut<\/em>\u201d, yang berarti kerancuan. Rancu karena tidak jelas, namun masih\nmungkin dicari kejelasannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena\nitu Ibnu Rusyd menulis sanggahan atas kritik Al Ghazali, dengan menulis \u201c<em>At\nTahafut At Tahafut<\/em>\u201d, Kerancuan <em>At Tahafut<\/em>. Di kitab itu Ibnu Rusyd\njuga menyanggah Al Ghazali dengan argumen jelas dan tajam, tanpa menggunakan\nkata cacian dan hinaan untuk mengkritik Al Ghazali yang ia anggap belum\nsepenuhnya menjelaskan filsafat dengan tepat dalam kitabnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun itu\nhanya terjadi di masa lalu, dan dilakukan oleh orang-orang yang berilmu dan\nberkarakter baik. Tentunya hal tesebut didukung oleh iklim intelektual dan\nkeadaan masyarakat yang masih menghargai perbedaan pendapat dan dialektika\npemikiran.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin kita\nakan sulit menemukan teladan tersebut di masa kini, di era disrupsi ketika <em>tabayyun<\/em>\ndianggap legenda yang belum dipahami oleh generasi milenial yang lebih akrab\ndengan internet dan\nmedia sosial daripada buku dan majelis ilmu. Sayangnya,&nbsp; fenomena tersebut telah menyebar dan juga\ndiikuti oleh banyak orang, termasuk mereka yang dianggap cendekiawan, atau\nulama. Walhasil <em>tabayyun<\/em> semakin asing bagi orang awam, dan mereka juga\nmengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mereka anggap panutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah ini\nmemang fenomena yang menjadi bagian takdir yang tak bisa dirubah, ataukah kita\nmasih bisa berusaha kembali membudayakan <em>tabayyun<\/em> di tengah era disrupsi\nyang mencabut segalanya dari akarnya ?<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga saja\nAllah masih memperkenankan perubahan yang lebih baik, agar anak cucu kita kelak\nmasih bisa mengenal dan mau mengamalkan <em>tabayyun<\/em>. Aamiin.[]<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Oleh : AKBAR SYAMSUL ARIFIN M.PdI &#8211;  Staf Khusus Bidang Pendidikan YBWSA <br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cWahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2776,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2775","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":1,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"\u201cWahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2775","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2775"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2775\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2775"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2775"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2775"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}