{"id":2759,"date":"2019-03-25T13:21:16","date_gmt":"2019-03-25T06:21:16","guid":{"rendered":"http:\/\/ybw-sa.org\/?p=2759"},"modified":"2019-03-25T13:21:16","modified_gmt":"2019-03-25T06:21:16","slug":"cemas-dan-harap-sebuah-keniscayaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/cemas-dan-harap-sebuah-keniscayaan\/","title":{"rendered":"Cemas dan harap : sebuah keniscayaan ?"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/hqdefault.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2762\" data-link=\"http:\/\/ybw-sa.org\/?attachment_id=2762\" class=\"wp-image-2762\"\/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><strong>\u201cDan sungguh akan Kami (Allah) berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan \u201cInna lillahi wa inna ilaihi ra ji\u2019un\u201d (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk\u201d.<\/strong><\/p><cite><strong>(Q.S. Al Baqarah (2) : 155 \u2013 157).<\/strong> <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p><strong>Pengantar :<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tema \/ judul yang diberikan rasanya cukup berat, apalagi waktu yang tersedia\nsangat terbatas, sehingga hanya atas izin Allah jua lah tulisan sederhana ini\nbisa tersaji di tengah pembaca. Alhamdulillah (Pen.)<\/p>\n\n\n\n<p>Mengacu pada ayat di atas nampak ada\ninformasi dari Allah bahwa setidaknya ada 5 hal yang akan diberikan oleh Allah\nkepada manusia, yaitu :<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama : Cobaan berupa\nketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua&nbsp; : Berita gembira <\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga&nbsp; : Keberkahan yang sempurna<\/p>\n\n\n\n<p>Keempat : Rahmat <\/p>\n\n\n\n<p>Kelima : Petunjuk<\/p>\n\n\n\n<p>Namun dari kelima butir di atas,\nhanya yang pertama yang sanggup dikupas dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cobaan\nberupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari segala cobaan tersebut di\natas timbul satu perasaan, kondisi, masalah besar yang tersimpul dalam satu kata\n\u201ccemas\u201d.\nSetiap kecemasan sangat pasti diikuti perasaan harap.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai satu illustrasi, izinkanlah\npenulis mengedepankan sebuah dialog antara seorang murid dengan gurunya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;\u201cAku dengar istrimu hamil. Anak\nlaki-laki&nbsp; atau&nbsp; perempuan yang kau inginkan ?\u201d, tanya sang Guru. Si murid menjawab, \u201cSaya tidak\nmenentukan, minta laki-laki atau\nperempuan. Yang selalu saya pinta dalam doa dan harap, anak saya lahir dalam keadaan utuh dan sehat, baik &nbsp;jasmani maupun rohani. Laki-laki atau perempuan terserah Allah Yang\nMaha Memberi\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBenar katamu, lanjut sang\nGuru, aku pun dulu berdoa demikian\u201d.&nbsp; &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kisah di atas, tersirat dua\nkondisi yang berseberangan tetapi saling terkait. Cemas dan\nharap. Di satu sisi cemas, kalau-kalau anak yang lahir tidak utuh dan tidak\nsehat, Di sisi lain ada satu pinta dan harap, semoga\nlahir dalam keadaan utuh dan sehat, baik jasmani maupun rohani.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kondisi seperti ini,\nkiranya akan dialami juga oleh orang lain, bukan cuma\nmilik si murid tadi. Dan juga bukan monopoli bagi suatu kehamilan atau proses\nkelahiran. Bisa jadi dalam posisi ketika belajar \/ ujian, bekerja, menjabat,\ndan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Masih terkait dengan kisah si murid tadi, ternyata istrinya melahirkan seorang\nanak laki-laki yang utuh dan sehat jasmaninya, tetapi belum tahu kondisi\nrohaninya. Ia bersyukur Alhamdulillah telah lahir dengan lancar dan selamat.\nTetapI masih timbul kecemasan, sekalipun tetap diikuti suatu pinta atau harap,\nsemoga rohani anaknya juga utuh dan sehat.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa bulan kemudian,\ntimbul berbagai kecemasan dan berbagai pinta. Apakah anakku bisa mendengar atau\ntuli ? &nbsp;Bisa melihat atau justru buta ? Bisa\nbersuara \/ berbicara atau bisu ? Bisa berjalan atau lumpuh ? Pertanyaan itu datang\nberiringan silih berganti.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah usia di atas balita,\ntimbul kecemasan yang lain. Apakah ia menjadi anak yang pendiam atau crewet ? Apa\nmau sekolah\/belajar ? Apakah ia bisa naik kelas, lulus, &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;bisa lanjut ke tingkat berikutnya ? Setelah\nlulus apakah mampu kuliah ? Dapat pekerjaan ?&nbsp;\nApakah cepat dapat jodoh ? &nbsp;Atau\nsebaliknya putus di tengah jalan ? Menjadi pengangguran ? Terjadi kecelakaan\natau human error ? Dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap fase teratasi dengan\npositif sudah seharusnya selalu diiringi rasa syukur, tetapi bila nilai negatif\nyang muncul, maka rasanya &nbsp;sikap sabar\nyang harus mengemuka.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah itu semua di atas\ntadi terlewati, akan berhenti kah rasa cemas seseorang, kalau tidak boleh\ndikatakan sudah hilang ? Ternyata belum atau bahkan tidak mungkin. Terus\nberlanjut sampai maut \/ ajal menjemputnya. Pada saat itulah\nkecemasan berhenti atau beralih kepada ahli warisnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai disini,\nrasanya sudah cukup memadai bila tulisan ini segera diakhiri karena telah menjelaskan\ndua aspek : cemas dan harap<em> (khauf dan\nroja\u2019<\/em>). Dan nampaknya\nbenar praduga di atas bahwa cemas dan harap adalah sebuah keniscayaan. Begitukah ? <\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan yang muncul\nkemudian, bagaimana cara &nbsp;mengatasi\nkecemasan ?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mengatasi kecemasan :<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Aa Gym, sebenarnya\nyang menjadi masalah bukan kecemasan itu sendiri, tetapi bagaimana kita\nmenyikapinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Cemas kita anggap musibah ?\nAtau kita sikapi&nbsp; sebagai suatu hikmah ?<\/p>\n\n\n\n<p>Selintas mungkin kita akan mengatakan\ndemikian &#8211; &nbsp;sebagai musibah. Suatu\npenderitaan. Sebab sangat pasti kondisi cemas itu menyebabkan timbulnya ketidak\nnyamanan yang lain. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, nafas terasa sesak, badan\nterasa sakit semua, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun bila di telaah lebih lanjut, justru disitulah kita menemukan hilmah\n\u2013 betapa indahnya kekuasaan Allah \u2013 Sang Maha Pemilik \u2013 Pengatur \u2013 Pemelihara \u2013\nPenguasa alam jagat raya &amp; isinya. Allah dengan sangat bijaksana memberikan rasa<em> cemas,<\/em> rasa takut, was-was tetapi pada saat yang bersamaan atau\nberiringan sekaligusmemberikan\nkesempatan kepada manusia agar mau introspeksi diri, mengakui ketidak mampuannya,\ntidak memiliki kuasa untuk merubah kecemasan itu sendiri. Ia harus datang\nkepada Allah, ia harus minta kepada-Nya, ia harus mengajukan pinta dan harap\nmenghilangkan kecemasan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Justru dengan diberi rasa cemas itu manusia sadar, ia tidak mungkin mandiri, butuh bantuan pihak lain, dan yang paling tepat hanya minta perlindungan dan pertolongan \u00a0kepada Sang Pencipta dan Pemelihara, bukan kepada sesama. Lalu bagaimana manusia mengatasi kecemasannya ?<\/p>\n\n\n\n<p>Upaya-upaya mengatasi kecemasan antara lain :<\/p>\n\n\n\n<p>1.Tingkatkan keyakinan. Yakin bahwa Allah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya dan yakin bahwa Dial ah juga yang akan memberikan jalan keluar (yang terbaik). Perhatikan kandungan Q.S. At Thalaq (65) : 2<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>&#8220;Yakinkan dirimu, bahwa semua itu pasti akan berlalu.&#8221;<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Segala sesuatu pasti ada batasnya. Lautan yang luas ada tepinya, perjalanan panjang pasti ada tujuannya. Maka kecemasan itu juga pasti akan berakhir pada episodenya. Mungkin hanya nafsu manusia yang tak pernah ada batasnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Seorang sahabat penulis pernah mengatakan : \u201cDalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu\u201d. Dan kata nya pula, sepanjang-panjang jalan \u00a0\u00a0\u00a0ada batasnya, seluas-luas laut ada tepinya, tapi nafsu manusia tak pernah ada puas-puasnya\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p>2. Menciptakan ketenangan dengan mengingat Allah. Dalam setiap aktifitas hendaknya kita selalu      melibatkan Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus, hanya Allah. Doa      kita setiap waktu \u201chanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mulah,      kami minta tolong\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Allah berfirman :<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201c Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenang\u201d \u00a0<\/p><cite>  Q.S. Ar Ra\u2019d (13) : 28 <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>3. Siap menghadapi kenyataan, ridla ketentuan\u00a0 Allah. Kehadiran seseorang di dunia adalah atas izin Allah, begitu juga perjalanan hidupnya akan seperti apa sampai dengan kematiannya sudah ditentukan oleh Allah. Dan itu semua telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Takdir itu kalau tidak kita jemput, pasti dia akan mendatangi kita. Jadi seseorang harus siap meng hadapi kenyataan apapun yang akan dialaminya. Dan ridla akan keputusan Allah.\u00a0 \u00a0 <\/p>\n\n\n\n<p>Allah befirman :<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p> \u201cTidak suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (di Lauhul Mahfudz)<\/p><cite>  Q.S. Al Hadiid (57) : 22-23  <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>4. Menyesuaikan kemampuan diri. Setiap individu pasti beda satu sama lain sekalipun ia saudara kembar. Entah fisiknya, wajahnya maupun kemampuan intelektualnya. Jadi seharusya seseorang dalam menyiapkan rencana aktifitas dan cita-citanya hendaklah mampu membaca dirinya sendiri, tidak mengukur baju orang lain. Mungkin bagi orang lain itu bagus, tetapi belum tentu untuk kita juga bagus.<\/p>\n\n\n\n<p>Perhatikan , dimana Allah berfirman : <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201cKami tiada membebani seseorang melain kan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran dan mereka tidak dianiaya\u201d.<\/p><cite> Q.S. Al Mu\u2019minuun (23) : 62 <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p> \u201cAllah tidak membebani seseorag melainkan sesuai dengan kessnggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan() yang diperbuatnya\u2026\u2026\u2026.\u201d<\/p><cite> Q.S. Al Baqarah (2) : 286 <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>5. Pastikan ada kemudahan. Perhatikan Allah berfirman :<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p> \u201c Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama dengan kesulitan ada kemudahan\u201d.<\/p><cite> Q.S. Al Insyirah <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Artinya bersama dengan kecemasan ada kemudahan dan bahkan diulang 2 kali, sehingga mungkin dapat dimaknai dari satu kesulitan akan didapatkan ganti 2 kemudahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengakhiri tulisan ini marilah kita berdoa :<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAllahummahdina bi hudaka. Wa ja\u2019alna min man yusa\nri\u2019u fi ridlaka. Wala tuwallina walyyan siwaka.&nbsp;\nWa la taj\u2019alna min man kha lafa wa \u2018ashoka. Wa hasbunallahu ni\u2019mal\nwakiil, ni\u2019mal maula wa ni\u2019man nashir wala haula wala quwwata illa bilahil\n\u2018aliyyil \u2018adhzim\u201d.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Wallahu a\u2019lam bis shawab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Oleh : Ibnu Husniyah Anwar<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cDan sungguh akan Kami (Allah) berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2762,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2759","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":7,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"\u201cDan sungguh akan Kami (Allah) berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2759","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2759"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2759\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2759"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2759"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2759"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}