{"id":2741,"date":"2019-02-06T11:52:51","date_gmt":"2019-02-06T04:52:51","guid":{"rendered":"http:\/\/ybw-sa.org\/?p=2741"},"modified":"2019-02-06T11:52:51","modified_gmt":"2019-02-06T04:52:51","slug":"menggapai-sifat-zuhud","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/menggapai-sifat-zuhud\/","title":{"rendered":"Menggapai Sifat Zuhud"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Zuhud-1024x512.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2744\"\/><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-0 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><\/ul>\n\n\n\n<p>Setiap hari\nmanusia berjalan hilir mudik kesana kemari. Yang rumahnya di barat mereka\nmenuju ke timur, dari utara menuju selatan, dari atas menuju ke bawah dan\nsebaliknya. Pagi mereka berangkat, sore hari baru pulang, bahkan ada yang\nsampai malam hari baru pulang. Sampai di rumah badan sudah capek dan letih,\nsedangkan anak dan istri dirumah menanti perhatian dan kasih sayang, belum lagi\nwaktu untuk ibadah menjadi terbengkalai, sedangkan badan rasanya sudah tidak\nkuat lagi melakukan itu semua. Begitu terus setiap hari berulang-ulang kita\nlakukan, demi terpenuhinya semua kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n<p>Pernahkah terbersit dalam pikiran kita untuk apakah semua itu kita\nlakukan, sampai kapan kita melakukan itu semua dan kemana nantinya semua yang\nkita lakukan itu. Ketika kita sibuk bekerja , ingin santai untuk berlibur,\nketika berlibur atau santai ingin segera pulang untuk bekerja atau punya\nkesibukan. Yang setiap hari jalan kaki melihat mereka yang punya sepeda,\nterlihat enak dan nyaman ingin punya sepeda, yang punya sepeda melihat yang\npunya sepeda motor ingin punya motor, yang punya motor ingin punya mobil, yang\npunya mobil ingin punya mobil yang lebih banyak. Yang mempunyai rumah di\ndataran tinggi ingin punya rumah di dataran rendah supaya selamat dari bahaya\ntanah longsor sewaktu hujan deras, sedangkan yang mempunyai rumah di di dataran\nrendah ingin punya rumah di dataran tinggi karena sudah bosan dengan bencana\nbanjir yang selama ini menimpa mereka apabila terjadi hujan lebat. begitu terus\ntidak ada habisnya, karena memang nafsu terus mendorong manusia untuk memenuhi\nkebutuhannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah saw mengajarkan kepada kita dalam memandang dunia yakni\ndengan pandangan zuhud. Zuhud merupakan suatu sikap terpuji yang disukai Allah SWT, di mana\nseseorang lebih mengutamakan cinta akhirat dan tidak terlalu mementingkan\nurusan dunia atau harta kekayaan. Zuhud sangat diperlukan dalam rangka kita\nmenghadapi budaya materialism dan hedonism yang kini marak melanda di belahan\ndunia manapun. Umat islam kini tengah diuji oleh Allah melalui harta benda dan\nkedudukan akan tetapi banyak diantaranya tergelincir. Sifat zuhud saat ini adalah salah satu sifat yang\ntidak populer di kalangan kita umat Islam. Ketika kita dihadapkan pada hal-hal\nyang bersifat materi atau lebih kongkritnya adalah uang, maka semangat yang\ntimbul di dalam diri kita menyala-nyala seakan materi itu adalah segalanya bagi\nkita, sedangkan apabila kita dihadapkan pada hal-hal yang bersifat ubudiyah\nmaka mulai hinggaplah rasa kemalasan itu kepada diri kita. Lalu bagaimana\nsebaiknya yang kita lakukan agar kita dapat menggapai sifat zuhud itu?, paling\ntidak ada 3 hal yang harus kita lakukan, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Pertama<\/em><\/strong><strong>,<\/strong> Pengendalian hawa nafsu<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cJanganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginan (hawa nafsu)nya.\u201d<\/em> <\/p><cite>Al-Quran Surat Al-Kahf : 28<br><\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Nafsu ini adalah munculnya keinginan di dalam diri manusia. Nafsu adalah\nfitrah diberikan Allah kepada manusia. Nafsu juga merupakan sesuatu hal yang\npenting bagi manusia, manusia tanpa nafsu bagaikan robot, stagnan tidak ada\nperubahan. Nafsu ini terkadang mengajak kita untuk berbuat baik, nafsu\nmendorong kita untuk mendatangi majlis ilmu, majlis dzikir,majlis sholawat,\nsedangkan nafsu ini juga yang mendorong kita untuk berbuat maksiat. Maka tugas\nkita dalam rangka menggapai zuhud ini adalah mengendalikan nafsu, terutama\nnafsu cinta dunia. Ubahlah cara pandang kita tentang dunia ini. Kita hidup di\ndunia ini hanya sementara, dalam falsafah Jawa disebutkan \u201curip mung sakdermo\nmampir ngombe\u201d, artinya dunia ini hanya \u201campiran\u201d saja, kita hanya lewat saja\ndi dunia ini karena pada hakekatnya semua manusia ini adalah penduduk surga, sebagaimana\nasal usul kita Nabi Adam yang pernah tinggal di surga. Maka tidak heran jika\nRasulullah saw juga pernah menyampaikan bahwa manusia hidup di dunia ini\nseperti orang yang menyeberang, hanya melintas sebentar saja karena hakekatnya\nia ingin segera sampai kepada asal usulnya yang sejati yakni kampung akhirat.\nMaka jika berpikir seperti itu, nafsu untuk menguasai dunia harus perlahan kita\nluruhkan, apalagi jika dalam menguasai dunia itu dengan cara menjatuhkan orang\nlain, memusuhi orang lain, menginjak harga diri orang lain, melukai perasaan\norang lain. <\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Kedua<\/em><\/strong>, Perbanyak sedekah<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cPerumpamaan orang-orang yang mendermakan (shodaqoh) harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugrah-Nya) lagi Maha Mengetahui\u201c.<\/em><\/p><cite>Al-Quran Surat Al-Baqoroh : 261<\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Ketika kita telah bekerja mendapatkan uang, kemudian uang tersebut kita\nbelanjakan untuk keperluan keluarga kita sehingga itu membuat keluarga kita\nsenang dan bahagia, akan tetapi pernahkah kita berpikir bahwa kebahagiaan\nseperti itulah yang juga diinginkan semua orang?. Sebagian dari kita mungkin\nberuntung bekerja pada tempat yang nyaman dan berpenghasilan tinggi sehingga\nkeluarga kita bisa kecukupan, tetapi bagaimana dengan saudara kita, tetangga\nkita, teman kita yang kebetulan mereka tidak seberuntung kita? Apakah mereka\njuga tidak berhak untuk merasakan kebahagiaan yang selama ini kita rasakan?,\nsedangkan apabila mereka sudah kehilangan akal untuk mencapai kebahagiaan itu\nmaka jalan-jalan keburukanlah yang akan mereka tempuh, mungkin mencuri,\nmerampok atau hal lain dan ini menimbulkan ketidakharmonisan hubungan sesama\nkita. Maka solusinya adalah sedekah. <\/p>\n\n\n\n<p>Sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan yakni tetangga,kerabat dan\nteman teman dekat kita agar mereka juga bisa merasakan kebahagiaan sebagaimana\nyang kita rasakan. Kita semestinya menyadari bahwa harta itu adalah titipan\nAllah. Kita lahir didunia tanpa membawa apapun, sekarang ini kita punya\nsegalanya, pada akhirnya nanti kita kembali kepada Allah juga tanpa membawa\napapun. Sedekah mampu mengikis sifat cinta dunia, menghapus dosa, menghindarkan\nbencana dan kemudaratan dan menguatkan tali silaturahmi diantara sesama\nmanusia. Bahkan Rasulullah pernah mengajarkan jika kita membenci pada seseorang\nmaka bersedekahlah kepadanya sampai rasa benci kita terkikis oleh sedekah kita.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Ketiga<\/em><\/strong>, Perbanyak ingat\nmati<\/p>\n\n\n\n<p>Kematian adalah sebuah keniscayaan. Kematian adalah pintu menuju kampung\nsejati manusia yakni kampung akhirat. Dalam kitab <em>Usfuriyah<\/em> bab tentang zuhud diterangkan ; <em>Dari Abi Said Al-Khudri diriwayatkan, bahwa suatu hari Nabi Saw. ke\ntempat shalat, beliau melihat orang-orang sedang asyik berbincang-bincang, lalu\nBeliau bersabda \u201cAndaikata kalian banyak mengingat \u201cpemutus kenikmatan\u201d niscaya\nkalian tidak banyak berbicara seperti ini, seringlah mengingat pemutus\nkenikmatan, yakni kematian.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dalam hadist yang lain Rasulullah Saw. bersabda\n:\u201cSebaik-baik manusia adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia\nmeninggalkannya, membuat ridha Tuhan sebelum bertemu dengan-Nya dan memakmurkan\nkubur sebelum memasukinya.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Maka, <em>dzikrul maut<\/em> (mengingat\nmati) ini termasuk senjata ampuh kita dalam menggapai zuhud. Sesekali kita\nmungkin perlu berlama-lama di area kubur untuk melihat dan membayangkan bahwa\nkita akan dibaringkan disana dan sebanyak apapun harta kita tidak akan mampu\nmenolong kesusahan kita disana, atau mungkin kita juga perlu sesekali\njalan-jalan di rumah sakit terutama di ruangan gawat darurat atau ruang\nrehabilitasi maka kita akan menyadari betapa nikmat yang diberikan Allah swt\nsungguh luar biasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka dari itu hendaklah kita latih diri kita untuk secara perlahan\nmeluruhkan rasa cinta kita kepada dunia, untuk lebih mementingkan urusan\nakhirat kita. Dunia adalah penting karena sebagai bekal kita kembali ke kampung\nakhirat kita. Insya Allah kita menjadi hamba Allah yang terselamatkan di dunia\ndan akhirat.amiin .<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Oleh : Abu Sayyid Rahmat &#8211; Kemahasiswaan UNISSULA<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap hari manusia berjalan hilir mudik kesana kemari. Yang rumahnya di barat mereka menuju ke timur, dari utara menuju selatan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2744,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2741","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":1,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"Setiap hari manusia berjalan hilir mudik kesana kemari. Yang rumahnya di barat mereka menuju ke timur, dari utara menuju selatan, [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2741","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2741"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2741\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2741"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2741"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2741"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}