{"id":2700,"date":"2019-01-18T10:45:55","date_gmt":"2019-01-18T03:45:55","guid":{"rendered":"http:\/\/ybw-sa.org\/?p=2700"},"modified":"2019-01-18T10:45:55","modified_gmt":"2019-01-18T03:45:55","slug":"memahami-kematian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/memahami-kematian\/","title":{"rendered":"Memahami Kematian"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/kematian.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2701\" data-link=\"http:\/\/ybw-sa.org\/?attachment_id=2701\" class=\"wp-image-2701\"\/><figcaption>Sumber gambar : hidayatullah.com<\/figcaption><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong><em>AD-DAHRIYYAH<\/em> DAN KEMATIAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bagi umat\nIslam, membicarakan kematian sama pentingnya dengan menguraikan konsep tentang\nkehidupan. Kedua konsep ini tidak dapat berdiri sendiri. Mereka adalah kondisi\nyang saling berkaitan dan sebagai sebuah \u201cpasangan\u201d, keduanya memiliki\nperbedaan mendasar. &nbsp;Dalam Al-Qur\u2019an,\nkata <em>al-mawt<\/em> (mati) digunakan\nsebanyak 50 (lima puluh) kali dalam bentuk tunggal (<em>mufrad<\/em>) dan 6 (enam) kali dalam bentuk <em>jama\u2019<\/em>. Sementara kata <em>hayat<\/em>\n(hidup) disebutkan sebanyak 76 (tujuh puluh enam) kali. Penggunaan kata <em>hayat<\/em> tersebut sebanyak 68 (enam puluh\ndelapan) kali dikaitkan dengan kata <em>ad-dunya<\/em>.\nDengan demikian kehidupan sebagai lawan dari kematian dihubungkan secara\nlangsung dengan konsep tentang dunia. <\/p>\n\n\n\n<p>Kematian itu\nsendiri bukan merupakan batas paling akhir dari kehidupan manusia. Kematian\nhanya menjadi batas akhir persentuhan antara manusia dengan alam dunia.\nSetelahnya, kematian menjadi titik awal yang menandai dimulainya kehidupan\nhakiki, yaitu di alam akhirat. Secara tegas Islam menolak pemikiran kelompok <em>ad-Dahriyyah, <\/em>dari kalangan kaum kafir\ndan musyrikin Arab, yang menyatakan bahwa kehidupan dunia akan berakhir dengan\ndatangnya kematian. Penolakan terhadap pemikiran tersebut, diberitakan oleh Allah\ndalam Al Qur\u2019an sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\">\u201c<em>Dan mereka berkata, \u2018Kehidupan ini tidak\nlain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada\nyang akan membinasakan kita selain masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai\npengetahuan tentang itu, mereka hanya menduga-duga saja<\/em>.\u201d (QS.\nAl J\u00e2tsiyah: 24)<\/p>\n\n\n\n<p>Ibnu Katsir\ndalam tafsirnya menjelaskan bahwa keyakinan kaum <em>ad-Dahriyyah<\/em> muncul dari sejumlah pemikir <em>jahiliyyah<\/em> yang mengingkari konsep penciptaan dan berkeyakinan\nbahwa makhluk hidup akan dikembalikan ke dalam bentuknya yang semula. Sebagian\ndari mereka bahkan sejak awal telah menolak keberadaan Sang Pencipta. Mereka\njuga meyakini bahwa setiap tiga puluh enam ribu tahun sekali segala sesuatu\nakan dikembalikan kepada bentuk asalnya. Mereka mengira bahwa kehidupan akan\nberulang terus-menerus tanpa memiliki batas akhir. Pemahaman menyimpang semacam\nitu tentu akan berimbas pada penegasian sejumlah konsep kunci dalam Islam,\ntermasuk tentang hari berbangkit (QS. Al-An\u2019am: 29) atau surga dan neraka.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika menjelaskan tentang hakikat kematian yang akan menimpa semua makhluk yang dianugerahi kehidupan, Al Quran lantas menghubungkannya dengan konsep surga dan neraka. Hal ini diungkapkan oleh Allah sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\">\u201d<em>Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.\nDan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa\ndijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah\nberuntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang\nmemperdayakan<\/em>.\u201d (QS. Ali \u2018Imran: 185).<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat di atas\ndengan sendirinya memberikan gambaran kepada umat Islam bahwa kematian adalah\npemutus kenikmatan dunia. Setelah manusia mengalaminya maka ia akan segera\nmemulai pertanggungjawaban kehidupannya untuk memperoleh kenikmatan di surga\natau justru jatuh dalam kesengsaraan di neraka. Rasulullah mengingatkan sembari\nmenyitir Surat Ali \u2018Imran ayat 185 di atas dengan menyatakan, \u2018<em>Satu tempat cemeti di Surga itu lebih baik\ndari dunia dan semua isinya. Bacalah bila kalian berkenan: \u201cBarang siapa\ndijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah\nberuntung.\u2019<\/em> (HR. Bukhari, 6415 dan Muslim, 1881, dari hadits Sahal bin\nSa\u2019ad).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BAHAYA\nKEMATIAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kematian\nmerupakan sebuah peristiwa yang pasti akan terjadi kepada setiap yang hidup.\nDalam membicarakan konsep ini Al Quran seringkali mewacanakan gagasan secara\nkontemplatif. Diantaranya : <\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\">\u201c<em>Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan<\/em>&#8220;. (QS. Al-Jumu\u2019ah: 8).<\/p>\n\n\n\n<p>Sedemikian\npentingnya pembicaraan tentang konsep kematian, maka tidak heran jika para\nshahabat dan ulama\u2019 setelahnya senantiasa mengingatkan agar manusia selalu\nmempersiapakan diri dalam menghadapi kematian. Sebab manusia tidak mengetahui\nkapan waktu itu akan tiba sementara syahwat manusia seringkali membawanya pada\nkelalaian. Kematian&nbsp; menyimpan sebuah\nbahaya yang setiap saat mengintai manusia yang lalai dari mengingat mati (<em>dzikr al-mawt<\/em>). Bencana besar akan\nmendatangi seorang hamba apabila kematian bertandang dalam keadaaan mengalami <em>s\u00fb\u2019ul khatimah<\/em> (akhir yang buruk).<\/p>\n\n\n\n<p>Hal itu\nsenada dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Al Ghazali dalam <em>Ihya\u2019 Ulumuddin <\/em>bahwa kematian bukan\nsekedar sesuatu yang menakutkan, namun di dalamnya terdapat potensi yang bisa\nmenjerumuskan manusia ke dalam bahaya. Potensi bahaya itu akan muncul jika\nmanusia tidak pernah memikirkan sedikit pun tentang hakikat kematian itu\nsendiri. Mereka dilalaikan oleh kelezatan dunia yang menipu dan kalbunya kosong\nkarena disibukkan dengan keinginan untuk mengejarnya. Oleh karena itu maka\nsetiap orang membutuhkan persiapan tersendiri untuk menghadapi kematian.\nPersiapan semacam ini seharusnya bersifat kontinu dan tanpa henti, mengingat\ndatangnya kematian tidak dapat diduga atau diramalkan oleh manusia. Imam Hasan\nal-Bashri menyatakan bahwa, \u201c<em>Kematian itu\nmembuka kekurangan dunia, maka kematian tidak meninggalkan kesenangan bagi\nmanusia yang berakal<\/em>\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, meski\nkematian itu menakutkan, karena hal itu merupakan sebuah kepastian maka setiap\norang harus senantiasa mewaspadai sembari mempersiapkan diri. Kematian bukan\nmerupakan sesuatu yang harus menimbulkan kesedihan tak berujung. Badiuzzaman\nSaid Nursi, ulama\u2019 besar Turki, dalam <em>Al-Mekt\u00fbb\u00e2t<\/em>-nya\nketika menyikapi kematian salah seorang anak dari pengikut <em>Thull\u00e2bun n\u00fbr <\/em>\u2013 majlis ilmu yang didirikannya-, menyatakan, \u201c<em>Seandainya dunia kekal abadi, seandainya\nmanusia kekal selamanya di dalamnya, atau seandainya perpisahan bersifat abadi,\ntentu kesedihan yang pedih dan duka lara yang ada bisa dimaklumi. Namun, karena\ndunia merupakan negeri jamuan, maka kemana anak yang meninggal itu pergi, kita\nsemua juga akan berangkat ke tempat yang sama. Lagi pula yang merasakan\nkematian bukan hanya dia. Namun ia (kematian) adalah jalan yang dilalui semua\norang<\/em>\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>MENGINGAT\nMATI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Imam Al Ghazali dalam <em>Ihya\u2019<\/em> mengingatkan bahwa orang-orang yang paling sulit mengingat kematian biasanya terdiri dari mereka yang sangat gandrung dengan dunia dan memuja <em>syahwat<\/em>nya. Kecenderungan terhadap dunia semacam ini biasanya menyebabkan panjang angan-angan yang pada giliran selanjutnya memunculkan <em>hijab<\/em> atau penghalang antara dirinya dengan mengingat kematian. Kadang-kadang ia memandang jauh kematian karena ia berada dalam kondisi sehat. Tanpa ia sadari kematian itu bisa sedemikian dekat dan berlangsung tiba-tiba. Saat ditanya oleh \u2018Aisyah tentang kematian yang terjadi secara tiba-tiba, Rasulullah saw menyatakan, \u201c<em>Itu (kematian yang tiba-tiba) adalah istirahat bagi seorang mukmin dan kematian yang menyedihkan bagi orang yang fajir (suka berbuat keburukan<\/em>) \u201d. (HR. Ahmad, 23891)<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu cukuplah kematian menjadi pengingat manusia. Ia adalah makhluk yang <em>fana\u2019<\/em> dan akan tiba gilirannya kembali kepada Sang Pencipta. Dengan demikian, manusia akan senantiasa menyegerakan berbekal amal kebaikan tanpa menunda-nundanya. Al-Mandzir menyatakan, \u201c<em>Aku mendengar Malik bin Dinar berkata kepada dirinya, \u201cCelaka kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu. Celakalah kamu, bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu.\u201d Sehingga ia mengulanginya yang demikian itu sampai enam puluh kali yang aku mendengarnya dan ia tidak melihatku\u201d<\/em>. Apa yang dimaksud dengan \u201curusan yang akan segera datang\u201d dalam ungkapan Malik bin Dinar tersebut ? Hal itu tidak lain adalah kematian.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah\nsaw mengingatkan untuk, \u201c<em>Manfaatanlah\nlima perkara sebelum lima perkara (yakni) masa mudamu sebelum datang masa\ntuamu; masa sehatmu sebelum masa sakitmu; masa kayamu sebelum datangnya\nkefakiranmu;&nbsp; masa lapangmu sebelum masa\nsibukmu; hidupmu sebelum datang matimu<\/em>\u201d. (HR. Al-Hakim dalam <em>Al-Mustadrak<\/em>). <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan\nmengingat kematian maka seorang mukmin akan mendapati dirinya berada dalam\nsejumlah kondisi menguntungkan diantaranya: <\/p>\n\n\n\n<p>(1) Mengingat\nkematian termasuk ke dalam amalan yang dicontohkan oleh Nabi. Dengan\nmengamalkan itu dalam kehidupan sehari-hari maka seseorang akan beroleh\nganjaran dari Allah; (2) Mengingat kematian akan membawa ke-<em>khusyu\u2019<\/em>-kan dalam shalat dan mempertinggi\nkualitas ibadah-ibadah lainnya; <\/p>\n\n\n\n<p>(3) Mengingat\nkematian akan memotivasi manusia untuk mempersiapkan perjumpaannya dengan\nAllah. Ia akan berusaha untuk memperbanyak amaliyah kebaikan selama di dunia; <\/p>\n\n\n\n<p>(4) Mengingat\nkematian akan menghindarkan manusia dari perilaku dan akhlak yang tercela; <\/p>\n\n\n\n<p>(5) mengingat\nkematian akan membawa manusia pada kehidupan yang berkualitas dan meninggalkan\nhal-hal yang sia-sia, sebagaimana dinyatakan Rasulullah, \u201c<em>Seandainya kalian banyak mengingat pemutus kenikmatan, niscaya kalian tidak\nbanyak berbicara seperti ini, perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan<\/em>\u201d\n(HR. Turmudzi, 2648). Selain itu masih banyak manfaat lain yang dapat diperoleh\nmanusia dengan senantiasa mengingat kematian.<\/p>\n\n\n\n<p>Mudah-mudahan kita termasuk diantara hamba Allah yang dilimpahi akal yang sehat dan keimanan yang teguh sehingga senantiasa mampu mengingat tentang akan datangnya pemutus kenikmatan berupa kematian. Imam Hasan al-Bashri menyebutkan, \u201c<em>Tidaklah aku melihat orang berakal melainkan aku mendapati ia waspada terhadap kematian dan bersedih atasnya<\/em>\u201d. Sejalan dengan pernyataan Hasan al-Bashri tersebut, Ar-Rabi\u2019 bin Khaitsam mengungkapkan, \u201c<em>Tidaklah perkara ghaib yang ditunggu oleh mukmin yang lebih baik baginya daripada kematian<\/em>\u201d. <em>Wallahu a\u2019lam<\/em>.[]<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Oleh. Susiyanto, M.Ag. &#8211; Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>AD-DAHRIYYAH DAN KEMATIAN Bagi umat Islam, membicarakan kematian sama pentingnya dengan menguraikan konsep tentang kehidupan. Kedua konsep ini tidak dapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2701,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[1677,1678,1679,1680,1681],"class_list":["post-2700","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","tag-akhir","tag-hidup","tag-kehidupan","tag-kematian","tag-mati","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":4,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"AD-DAHRIYYAH DAN KEMATIAN Bagi umat Islam, membicarakan kematian sama pentingnya dengan menguraikan konsep tentang kehidupan. Kedua konsep ini tidak dapat [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2700","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2700"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2700\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2700"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2700"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2700"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}