{"id":2811,"date":"2019-09-02T10:25:24","date_gmt":"2019-09-02T03:25:24","guid":{"rendered":"https:\/\/ybw-sa.org\/?p=2811"},"modified":"2019-09-02T10:25:24","modified_gmt":"2019-09-02T03:25:24","slug":"memperkuat-strategi-dakwah-islam-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/memperkuat-strategi-dakwah-islam-dunia\/","title":{"rendered":"Memperkuat Strategi Dakwah Islam Dunia"},"content":{"rendered":"<ul class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Contoh-Teks-Ceramah.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2814\" data-link=\"https:\/\/ybw-sa.org\/?attachment_id=2814\" class=\"wp-image-2814\"\/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Perang salib telah\nmeninggalkan kesan mendalam dalam tubuh Kristen. Gagasan mengorganisasi gerakan\nsitematis dan terencana mulai dikembangkan. Raimond Loll dari Spanyol tercatat\nsebagai misionaris pertama yang melaksanakan misi pasca perang salib. Secara\nserius, ia aktif mempelajari Bahasa Arab dan tradisi di beberapa negeri muslim\nuntuk memetakan pergerakan. Pengalamannya malang melintang di dunia muslim\ntelah menginspirasi banyak penginjil sepeninggalnya. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>KOLONIALISME SEBAGAI\nKENDARAAN <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya kegiatan\nmisionarisme bergerak dengan membonceng pada kolonialisme terutama dalam\nmenganeksasi negera-negara muslim. Misionarisme itu sendiri bahkan menjadi salah\nsatu ujung tombak dari agenda orientalisme &nbsp;di kawasan Timur. Ketika para misionaris mendapat\nkesempatan mendirikan pusat-pusat kegiatan di negara Islam (Turki Utsmani),\nkesempatan itu dimanfaatkan untuk melakukan agitasi terhadap warga negara. Pada\n1841 misalnya, terjadi keributan di pegunungan Libanon antara penduduk penganut\nKristen Maronit dan kaum Druze. <\/p>\n\n\n\n<p>Perselisihan antara\nkaum Maronit dan Druze itu diprovokasi oleh penjajah Inggris (yang bersekongkol\ndengan kaum Druze) dan Perancis (yang bersekongkol dengan kaum Maronit). Akibat\nprovokasi pendeta Maronit, pada 1857 terjadi revolusi bersenjata dimana para\npetani Kristen melawan tuan tanah Druze. Kerusuhan merata di seluruh Libanon. <\/p>\n\n\n\n<p>Di Damaskus\npropaganda kebencian segaja disebar untuk memancing umat Islam agar menyerang\ndaerah Kristen pada 1860. Keributan tersebut memaksa Turki Utsmani turun tangan.\nSekalipun Turki berhasil menenangkan keadaan, Inggris dan Perancis memanfaatkan\nkerusuhan yang mereka dalangi sendiri di wilayah Syiria dan Libanon itu untuk menginvasi\nwilayah Utsmani. &nbsp;Penjajah memaksa Turki untuk\nmemecah wilayah Syam menjadi 2 propinsi yakni Libanon dan Syiria, dimana ahirnya\nLibanon dikuasai oleh orang Kristen. Sejak itulah Libanon menjadi penghubung\nantara imperialis dengan negeri-negeri Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang terjadi di\nIndonesia pun tidak jauh berbeda, masuknya bangsa Barat yang berlanjut dengan\npenjajahan, juga tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan misi. Dalam sejarah,\nkehadiran mereka memang tidak terpisahkan dengan slogan \u2018<em>Gold, Glory, and Gospel<\/em>\u2019 (mencari kekayaan, mencari kejayaan, dan\npenyebaran Injil), baik Portugis dengan penyebaran Katolik maupun Belanda\ndengan Protestanisme dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan misionarisme,\ndalam sejarahnya, memang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas imperialisme\nBarat untuk menguasai, memecah belah dan mencegah persatuan terbentuk di\nbelahan dunia Islam. Indonesia merupakan salah satu negera yang mendapatkan\nimbas dari <em>tiga serangkai<\/em> yang\nterdiri dari kolonialisme, orientalisme, dan tentu saja misionarisme.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>MISI MODERN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penjajahan terhadap\ndunia Timur ternyata tidak cukup untuk mampu memupus spirit Timur agar bisa\ndiganti dengan <em>worldview<\/em> Barat. Oleh\nkarena itu maka misionarisme diharapkan tetap bisa menjadi ujung tombak . Samuel\nZwemmer, dalam sebuah Konferensi Misionaris tingkat dunia di Yerusalem pada\n1935, menyatakan bahwa bahwa \u201c<em>Tujuan kita\ntidak secara langsung untuk mengkristenkan umat islam karena hal ini tidak akan\nsanggup kita laksanakan. Namun yang perlu diingat adalah menjauhkan kaum\nmuslimin dari ajaran islam. Ini yang harus dicapai walaupun mereka tidak\nbergabung dengan kita<\/em>\u201d. Zwemmer sendiri bukan merupakan penganut Kristen.\nIa adalah seorang Yahudi dimana dirinya memiliki kepentingan untuk ikut serta\nmengurangi populasi muslim dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Rekomendasi Zwemmer\ntersebut diterima sebagai strategi untuk mendekati Islam. Kristenisasi tidak\nharus berujung pada konversi agama, dimana seorang muslim berpindah menjadi\npenganut Agama Masehi. Program ini sudah dianggap memiliki keberhasilan dalam\ntaraf tertentu apabila sanggup membawa kaum muslimin abai dan tidak bangga terhadap\najarannya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Usaha-usaha penginjilan ke dunia Islam mendapatkan sokongan dari berbagai pihak. Umat Masehi dari berbagai denominasi dihimbau untuk menjalankan misi. Seruan Paus Benecdictus XVI pada 10 April 2007 di Balkon Residen Castelgando, hanya merupakan salah satu contoh bahwa kalangan Katolik pun tidak melewatkan kesempatan: <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201c<em>Catholics should take their all over the world, should not fear showing their faith in the furthest corners of the world. Evangelism was one of the meaning of Easter, urgent that men and women of our era know and meet with Jesus<\/em>.\u201d <\/p><cite> (Laporan Reporter Kantor Berita AFP, Vincenzo Pinto, \u201c<em>Pope Calls for Global Evangelism<\/em>, April, 10, 2007, 06:50) <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Agenda-agenda\ntersebut tentu harus didukung pula dengan pengorganisasian yang kuat. Setidaknya\nada dua tipologi lembaga yang bergerak dalam dunia penginjilan yakni: (1) <em>Pure Mision<\/em> (Misi Murni \/ Misi Gerejawi)\nyaitu&nbsp;&nbsp; lembaga misi yang berbasis pada\nmisi gerejawi yang sesungguhnya; (2) <em>Mixture\nMision<\/em> (Misi Campuran antara Gereja, Inteljen, dan Politik) yaitu lembaga misi\nyang berorientasi pada kepentingan politis, diplomasi, dan intelejen yang\nmenumpang pada misi gerejawi. Tantangan terorganisasi semacam inilah yang akan\ndihadapi oleh umat Islam, termasuk di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>STRATEGI DAKWAH\nISLAM<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Peringatan Allah\nbahwa \u201c<em>Orang-orang Yahudi dan Nasrani\ntidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka \u2026.<\/em>\u201d (QS.\n2: 120), tentu harus mendapat perhatian serius. Syiar \u201ctoleransi\u201d yang hari ini\ndiserukan di tanah air, masih jauh panggang dari api dalam memupus \u201chasrat\u201d\nuntuk memurtadkan penganut Islam. Seolah hanya berfungsi sebagai pemanis bibir\ndan tidak jarang digunakan sebagai alasan untuk menuding muslimin sebagai kaum\nintoleran.<\/p>\n\n\n\n<p>Disini dakwah\nhendaknya mampu berperan untuk mengawal perubahan. Konsep-konsep Islam harus\nterus diperkenalkan kepada umat agama lain. Tidak disangkal, kesalahan persepsi\ntentang Islam telah banyak berkembang di kalangan mereka. Oleh karena itu\ndakwah menjadi solusi untuk mengatasi persoalan ini. Allah berfirman : <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201c<em>Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk<\/em>.\u201d <\/p><cite> (QS. An Nahl: 125) <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Guna menciptakan\nsebuah perubahan mendasar, dakwah hendaknya diselenggarakan dengan struktur dan\npengorganisasian yang baik. Perencanaan dan program-program dakwah menjadi penting\ndibicarakan bersama antar setiap elemen umat. Format syiar agama kepada\nmasyarakat muslim dan terutama non-muslim perlu digagas kembali. Demikian juga\nkebanggaan masyarakat muslim terhadap keislaman yang dianutnya perlu\nditumbuhkan kembali. Dengan demikian strategi dakwah Islam membentengi akidah perlu\ndiarahkan guna:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Mencetak dan\nmengkader dai-dai yang siap berdialog secara keilmuan maupun karya melalui\ndakwah kepada penganut agama lain. Sekaligus membangkitkan kesadaran bahwa\nsetiap muslim tanpa terkecuali adalah seorang da\u2019i.<\/li><li>Meningkatan\nkualitas muslim melalui pendidikan, pelatihan, dan upaya-upaya pengembangan.<\/li><li>Mewarnai\ndunia akademik dan bidang-bidang kehidupan yang strategis dengan wacana Islam\nsecara terstruktur dan terorganisasi. <\/li><li>Organisasi\u2013organisasi\nIslam diharapkan lebih peduli dengan agenda bersama keumatan dan bukan terkungkung\ndalam strategi golongan atau komunitas yang terbatas. Pola pengorganisasian hendaknya\ntidak lagi terjebak dalam \u201corganisasi jaringan\u201d yang selalu mementingkan kepentingan\ninternalnya, namun mulai menggagas \u201cjaringan organisasi\u201d yang mampu bergerak\ndinamis memikirkan eksistensi Islam. Dengan demikian penyamaan visi dan misi\ndakwah akan dapat diwujudkan bersama. <\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Oleh : Susiyanto, M.Ag. &#8211; (Koordinator Bidang Dakwah dan Kristologi Mualaf Center Kab. Semarang)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perang salib telah meninggalkan kesan mendalam dalam tubuh Kristen. Gagasan mengorganisasi gerakan sitematis dan terencana mulai dikembangkan. Raimond Loll dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2814,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2811","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":3,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"Perang salib telah meninggalkan kesan mendalam dalam tubuh Kristen. Gagasan mengorganisasi gerakan sitematis dan terencana mulai dikembangkan. Raimond Loll dari [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2811"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2811\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}