{"id":2803,"date":"2019-08-20T12:29:35","date_gmt":"2019-08-20T05:29:35","guid":{"rendered":"https:\/\/ybw-sa.org\/?p=2803"},"modified":"2019-08-20T12:29:35","modified_gmt":"2019-08-20T05:29:35","slug":"eksistensi-seorang-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/eksistensi-seorang-guru\/","title":{"rendered":"Eksistensi Seorang Guru"},"content":{"rendered":"<ul class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/guru-1-1024x738.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2809\" data-link=\"https:\/\/ybw-sa.org\/?attachment_id=2809\" class=\"wp-image-2809\"\/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Pesatnya\nperkembangan teknologi \u2013 secara langsung atau tidak \u2013 membawa pengaruh terhadap\ndunia pendidikan. Dunia pendidikan dihadapkan pada persoalan yang semakin\nkompleks yang mengakibatkan perilaku menyimpang pada peserta didik (pelajar). Praktik\nseks bebas merupakan salah satu contoh perilaku menyimpang yang dilakukan para\npelajar. Salah sebab yang mengantarkan mereka pada perilaku tersebut adalah\nkarena mudahkan mengakses perilaku yang sama dari teknologi, salah satunya\ninternet.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada satu isi\nIndonesia memiliki tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan\nbangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu menusia yang\nberiman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi perkerti yang\nluhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,\nkepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan\ndan kebangsaan. Apabila di kalangan pelajar masih terdapat perilaku menyimpang\nseperti asusila dan sebagainya, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan di\nIndonesia \u2013 secara umum \u2013 belum mencapai tujuannya yang semestinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Perlu\ndipahami, bahwa pendidikan tidak sekedar permasalahan status sebuah lembaga.\nMelainkan permasalahan yang komperehensif, yang melibatkan setiap unsur di\ndalamnya, karena pendidikan adalah sebuah sistem. Sebagai sebuah sistem tentu\nbanyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu,\nmencermati permasalahan yang dialami oleh para pelajar harus menggunakan kaca\nmata yang lebar, supaya mampu memperhitungkan secara jelas faktor apa yang\npaling berpengaruh. Artinya, tidak menjadikan pelajar yang menjadi subjek\nperilaku menyimpang sebagai kambing hitam secara membabi buta.<\/p>\n\n\n\n<p>Syaikh\nBurhanuddin&nbsp; al-Zarnuji adalah salah satu\npakar pendidikan yang sangat populer di kalangan umat Islam, terutama di\nkalangan pesantren. Dalam karya monumentalnya, <em>ta\u2019limul muata\u2019llim<\/em>, ia mengutip\nperkataan Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size\">\u0623\u0644\u064e\u0627\n\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0646\u064e\u0627\u0644\u064f \u0627\u0652\u0644\u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064e \u0625\u0644\u064e\u0651\u0627 \u0628\u0650\u0633\u0650\u062a\u064e\u0651\u0629\u064d&nbsp;&nbsp;&nbsp;\n#&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u0633\u064e\u0623\u064f\u0646\u0652\u0628\u0650\u064a\u0652\u0643\u064e \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0645\u062c\u0652\u0645\u064f\u0648\u0639\u0650\u0647\u064e\u0627\n\u0628\u0650\u0628\u064e\u064a\u064e\u0627\u0646\u064d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size\">\u0630\u064e\u0643\u064e\u0627\u0621\u064d\n\u0648\u064e\u062d\u0650\u0631\u0652\u0635\u064d \u0648\u064e\u0627\u0635\u0652\u0637\u0650\u0628\u064e\u0627\u0631\u064d \u0648\u064e\u0628\u064f\u0644\u0652\u063a\u064e\u0629\u064d&nbsp;&nbsp; #&nbsp;&nbsp; \u0648\u064e\u0625\u0650\u0631\u0652\u0634\u064e\u0627\u062f\u0650 \u0623\u064f\u0633\u0652\u062a\u064e\u0627\u0630\u064d \u0648\u064e\u0637\u064f\u0648\u0644\u0650 \u0632\u064e\u0645\u064e\u0627\u0646\u064d<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cIngatlah, kalian tidak akan memperoleh ilmu, kecuali memenuhi\nenam hal, yaitu kecerdasaran, semangat, kesabaran, biaya, petunjuk guru, dan\nwaktu yang relatif lama.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun guru bukan\nsatu-satunya pihak yang paling bertanggung jawab, namun ia memiliki posisi sebagai\npihak paling diharapkan peran dan fungsinya untuk membenahi perilaku anak bangsa. Peradaban\nyang selamat dan menyelamatkan membutuhkan sosok guru yang terampil mengajarkan\nilmu (pengajar) dan bisa jadi suri tauladan (pendidik). Filosofi Jawa mengatakan\nbahwa guru memiliki makna <em>digugu<\/em> <em>lan<\/em> <em>ditiru <\/em>(dipercaya dan\ndianut). Hal ini berarti guru itu seyogyanya bisa dianut dan ditiru segala\ntingkah lakunya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa guru adalah figur bagi peserta didik di tengah\ngempuran teknologi. Peran guru yang\nsangat diperlukan dalam membekali dan membentuk kepribadian anak didik,\nmembangun peradaban suatu masyarakat dan bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Apabila kita mencari <em>rule modell<\/em> seorang guru, maka ingatan dan mata kita akan tertuju pada manusia terbaik di alam semesta, yaitu Muhammad Rasulullah Saw. Satu-satunya manusia yang diciptakan sesuai dengan tujuaannya. <em>&nbsp;\u201cAku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak (umat manusia).\u201d <\/em>(HR. Ibnu Majah)<\/p>\n\n\n\n<p>Muhammad patut katakan sebagai <em>rule modell<\/em> pendidik karena ia memiliki akhlak yang mulia. Sehingga ia benar-benar patur dipercaya dan dianut segala perilakunya. Sebagaimana firman Allah Swt : <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>&#8220;Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung&#8221;<\/em><\/p><cite> QS. Al-Qalam ayat 4 <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Diantara perilaku Muhammad yang patut dijadikan dijadikan referensi seluruh\npendidik adalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Pertama<\/strong><\/em>, Mengajar bukan karena tujuan ingin mendapatkan imbalan dan bukan pula karena mengharapkan ucapan terima kasih, melainkan sebagai salah satu cara untuk beribadah karena mengharapkan ridha Allah Swt.<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Kedua<\/strong><\/em>, mengingatkan murid akan akhlak yang buruk dengan ungkapan kasih sayang, tidak secara terang-terangan, dan dengan ungkapan yang lemah lembut bukan celaan. Alangkah lebih baiknya para guru merenungi kata-kata hikmah dari Imam As-Syafie: \u201c<em>Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu.<\/em>\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Ketiga<\/strong><\/em>, guru memberikan penjelasan secara gamblang agar bisa dipahami oleh semua murid, bahkan oleh murid dengan kemampuan daya tangkap rendah sekalipun. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Aisyah, salah satu metode Rasulullah dalam memberikan penjelasan kepada para sahabatnya adalah dengan cara sangat jelas dan rinci tanpa tergesa-gesa.<\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Keempat<\/strong><\/em>, guru menyayangi murid-muridnya seperti mereka menyayangi anak-anaknya sendiri. Rasulullah SAW bersabda:<em>&nbsp;\u201cSesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah seperti orangtua kepada anaknya.\u201d<\/em> (HR. Ibnu Majah).<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kelima<\/em>, hendaknya guru berbuat sesuai dengan ilmunya, tidak mendustakan\nantara perkataan dan perbuatan. Allah SWT berfirman: <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>\u201cMengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? &#8230;\u201d<\/em> <\/p><cite> (QS. Al-Baqarah: 44). <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Berangkat dari hal tersebut, seorang pendidik memiliki peranan yang penting dalam suksesi pendidikan di negeri ini. Oleh karena itu, para pendidik hendaknya mencari <em>rule modell<\/em> yang tepat. Peringkat tertinggi figur seorang guru adalah Rasulullah dengan segala perilaku mulianya yang patut ditiru dan dianut oleh setiap umat. Sehingga guru benar-benar patut untuk <em>digugu lan dituru<\/em> bukan <em>wagu lan saru<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh :  Toha Makhsun, MPd &#8211; Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pesatnya perkembangan teknologi \u2013 secara langsung atau tidak \u2013 membawa pengaruh terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dihadapkan pada persoalan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2807,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2803","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":2,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"Pesatnya perkembangan teknologi \u2013 secara langsung atau tidak \u2013 membawa pengaruh terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dihadapkan pada persoalan yang [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2803","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2803"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2803\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2803"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2803"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2803"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}