{"id":2783,"date":"2019-07-24T13:23:24","date_gmt":"2019-07-24T06:23:24","guid":{"rendered":"http:\/\/ybw-sa.org\/?p=2783"},"modified":"2019-07-24T13:23:24","modified_gmt":"2019-07-24T06:23:24","slug":"mengurai-makna-mendalam-isra-miraj","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/mengurai-makna-mendalam-isra-miraj\/","title":{"rendered":"Mengurai Makna Mendalam Isra&#8217; Mi&#8217;raj"},"content":{"rendered":"<ul class=\"wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/040400200_1492996168-islamicitydotorg-1.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2785\" data-link=\"http:\/\/ybw-sa.org\/?attachment_id=2785\" class=\"wp-image-2785\"\/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Inni laushaddiquhu bi ab\u2019ada min dzalik. Ushaqqiduhu bikhabar as sama\u2019<\/p><cite> (Tanggapan Abu Bakar Ash Shiddiq terhadap Kisah Isra\u2019 Mi\u2019raj) <\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<p><strong>Isra\u2019 Mi\u2019raj,\n<\/strong><strong>Menembus Batas Nalar Manusia<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu untaian kisah indah dalam\n<em>sirah nabawiyah <\/em>yang telah lama diabadikan momentumnya sebagai hari besar umat\nIslam di Indonesia ialah Isra\u2019 Mi\u2019raj. Latar belakang\nIsra\u2019\nmi\u2019raj ialah terjadinya beberapa peristiwa menyedihkan bagi Nabi Muhammad Saw.\nyang kemudian, tahun tersebut dikenal sebagai \u2018<em>amul huzni <\/em>(tahun\nkesedihan)<em>. <\/em>Kesedihan Nabi Muhammad Saw. pada tahun itu karena istri dan paman beliau, yakni Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib\nmeninggal dunia. Keduanya sangat berjasa dalam perjuangan Nabi sebagai pembela\npemikiran, penyedia tenaga dan harta dalam\nperjuangan Nabi menegakkan Islam. Dua tahun setelah tahun\nkesedihan tersebut,\nNabi <em>diisra\u2019kan<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Peristiwa Isra\u2019 Mi\u2019raj secara lengkap dapat ditelusuri\nmelalui beberapa riwayat hadis <em>sahih<\/em>. Diawali dengan peristiwa\npembelahan dada Nabi untuk dibersihkan hatinya dari segala bentuk kotoran ketika beliau\ntengah tidur di rumah Ummu Hani\u2019. Malaikat Jibril kemudian menyiapkan\nkendaraan untuk Nabi Muhammad Saw. yang dinamakan sebagai <em>Bur<\/em><em>a<\/em><em>q<\/em>, hewan putih dengan langkah sejauh\npenglihatannya. Perjalanan Nabi dari Makkah menuju Baitul Maqdis\nberlangsung sangat cepat. Sesampainya di Baitul Maqdis, <em>Buraq<\/em> diikat\npada sebuah batu. Kemudian Nabi menjalankan shalat 2 rakaat di Masjidil Aqsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Perjalanan <em>Isra\u2019 <\/em>dilanjutkan dengan perjalanan <em>mi\u2019raj\n<\/em>yakni naiknya Nabi dari Masjidil Aqsa menuju langit yang bertingkat-tingkat<em>.\n<\/em>Dalam perjalanan tersebut, melewati tingkatan demi tingkatan langit, Nabi\nMuhammad bertemu dengan <em>&nbsp;<\/em>Nabi Adam\nas. di langit pertama. Beliau bertemu denganNabi Isa as. dan Nabi Yahya\nas. di langit kedua. Hingga berurutan Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris\ndi langit ke empat, Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam\ndan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Tafsir Ash Shawi karya Imam Ahmad Ash Shawi\ndisebutkan, setelah dari langit ke 7, Nabi Muhammad dinaikkan lagi hingga\ntingkatan ke 8 bernama <em>sidratul muntaha<\/em>. Kemudian beliau dinaikkan ke\natas lagi pada tingkatan ke 9 yang dinamakan sebagai <em>mustawa, <\/em>di sinilah\nMalaikat Jibril as. yang sedianya mendampingi Nabi dari awal perjalanan, berhenti\nmenemani Nabi karena keterbatasannya. Hingga kemudian Nabi dinaikkan lagi sampai pada\nArsy. Di sinilah Nabi Muhammad Saw. bertemu dan dapat melihat Allah Swt. dengan\npenglihatan beliau atas izin Allah. Peristiwa Isra\u2019 Mi\u2019raj diakhiri dengan\nperintah berupa shalat 5 waktu atas Nabi Muhammad Saw. beserta seluruh umat\nbeliau. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Syariat\nTermulia<\/strong><strong> <\/strong><strong>dalam Peristiwa Agung<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Oleh-oleh terindah atas perjalanan indah Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa\nIsra\u2019 Mi\u2019raj adalah kewajiban menjalankan syariat paling utama bernama shalat.\nOleh karenanya, momentum bulan Rajab sebagai bulan terjadinya Isra\u2019 Mi\u2019raj (menurut\npendapat masyhur), seharusnya dapat menggugah semangat umat Islam akan\npentingnya ibadah shalat. Karena setidaknya, ada beberapa alasan mendasar yang\nmenjadikan shalat sebagai ibadah paling utama yakni antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Shalat merupakan Identitas keimanan setelah syahadat<\/li><li>Shalat merupakan pembeda antara iman dan kufur<\/li><li>Shalat merupakan tiang\/pilar agama<\/li><li>Shalat adalah amal yang pertama kali dilihat, sekaligus sebagai barometer amal-amal lainnya<\/li><li>Shalat juga merupakan kunci surga.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Perhatian\nterhadap ibadah termulia tentunya dimulai dengan introspeksi pelaksanaan shalat\noleh diri sendiri. Ketika shalat wajib masih banyak yang tertinggal, maka\nseharusnya diperbaiki dengan menyempurnakan pelaksanaan shalat wajib 5 waktu.\nKetika telah lengkap, maka penyempurnaan tersebut diarahkan kepada pelaksanaan\nshalat-shalat sunnah sebagaimana yang dilaksanakan Nabi Muhammad Saw. Ketika\nshalat wajib dan sunnah telah terpenuhi dengan baik, maka perbaikan diarahkan\npada kualitas shalat sebagai sarana komunikasi dengan sang <em>Khaliq, <\/em>yakni\ndengan berbuat <em>ihsan. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Artinya\nupaya untuk menghadirkan Allah dalam beribadah, sehingga menimbulkan perasaan <em>khusyu\u2019\n<\/em>(ketenangan) dan <em>khudhu\u2019 <\/em>(ketundukan). Ketika seorang hamba mampu\nberbuat <em>ihsan <\/em>dalam beribadah, khususnya shalat, diharapkan ia juga akan\nmampu berbuat <em>ihsan <\/em>dalam bermuamalah dengan&nbsp; sesama makhluk. Karena pada hakikatnya,\nkeshalehan seseorang tidak hanya diukur dengan kebaikannya dalam berinteraksi\ndengan Allah (ibadah), melainkan juga kebaikannya ketika berinteraksi dengan\nsesama makhluk (muamalah). <\/p>\n\n\n\n<p><strong>M<\/strong><strong>engurai M<\/strong><strong>akna Mendalam <\/strong><strong>Isra\u2019\nMi\u2019raj<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Peristiwa\nagung bernama Isra\u2019\ndiabadikan dalam Alquran surat Al Isra\u2019 ayat 1. Sedangkan\nperistiwa Mi\u2019raj diabadikan dalam beberapa hadis shahih. Perjalanan luar biasa bernama Isra\u2019 Mi\u2019raj\nyang dilalui oleh Nabi Muhammad\nSaw. dengan melintasi 4 alam sekaligus, yakni alam <em>nasut<\/em> (alam jasad), alam<em>\nmalakut <\/em>(malaikat)<em>,<\/em> alam<em> jabarut <\/em>(sirr\/ruh)<em>, <\/em>alam<em>\nlahut <\/em>(<em>sirr al sirr\/Arsy<\/em>). Alam <em>nasut <\/em>yang dimaksudkan adalah\nketika perjalanan Nabi dari Makkah menuju Baitul Maqdis. Alam <em>Malakut<\/em>\nialah ketika bertemu dan berinteraksi dengan para Malaikat. Alam <em>Jabarut<\/em>\nyang dimaksudkan dalam perjalanan Isra\u2019 Mi\u2019raj ialah tatkala Nabi bertemu\ndengan ruh para Nabi. Sedangkan alam <em>lahut <\/em>ialah ketika Nabi naik ke\nArsy dan bertemu dengan Allah Swt. <\/p>\n\n\n\n<p>Perjalanan lintas alam yang dilalui oleh manusia terbaik\nsejagad raya tentunya mustahil jika terlewatkan tanpa makna. Imam As Suyuthi\ndalam Kitab <em>Al Isra\u2019 Wal Mi\u2019raj<\/em> merangkum hikmah perjalanan Nabi ketika\nIsra\u2019 Mi\u2019raj dalam beberapa point. Di antaranya ialah, peristiwa Isra\u2019 Mi\u2019raj\nyang diabadikan oleh Alquran dengan redaksi \u2018\u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064e \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a \u0623\u064e\u0633\u0652\u0631\u064e\u0649\n\u0628\u0650\u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u0650\u0647\u0650\u2019 merupakan\nbukti kongkret kedekatan dan kasih sayang Allah terhadap Nabi Muhammad. Karena\nhuruf <em>\u2018ba\u2019\u2019 <\/em>memiliki faedah <em>mushahabah<\/em><em> <\/em>yang artinya, pendampingan dan\npenyertaan Allah terhadap Nabi dengan kebaikanNya\ndan\npertolonganNya. <\/p>\n\n\n\n<p>Isra\u2019 Mi\u2019raj juga mengandung hikmah\nkeharusan pembersihan diri dari hal-hal yang buruk ketika seorang hamba ingin\nbertemu dengan Tuhannya. Karena peristiwa Isra\u2019 Mi\u2019raj didahului dengan\npembersihan hati Nabi oleh Malaikat Jibril. Pelaksanaan Isra\u2019 Mi\u2019raj pada malam\nhari mengandung pembelajaran bahwa malam hari merupakan waktu yang indah untuk\nberkomunikasi dengan Allah. Hingga banyak Ulama yang mengatakan tentang malam\nhari sebagai waktu khusyuk, saat berkumpul dengan yang dicintai. Berbeda dengan\nsebagian filsuf yang mengidentikkan malam dengan kegelapan yang hina, sementara\ndi dalam Alquran, waktu malam beberapa kali dijadikan sumpah karena\nkeistimewaannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Peristiwa\npertemuan Nabi Muhammad Saw. dengan para Nabi di tiap tingkatan langit juga mengandung\nhal yang bersifat informatif. Imam As Suyuthi mengatakan, bahwa pertemuan Nabi\nMuhammad dengan para Nabi mengandung sebuah informasi rahasia atau isyarat dari\nAllah tentang keserupaan sesuatu yang akan dialami Nabi Muhammad dengan para\nNabi yang dijumpai. Pada langit pertama, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi\nAdam. Isyarat yang terkandung adalah Nabi akan keluar dari Makkah untuk hijrah\nke Madinah sebagaimana Nabi Adam keluar dari surga menuju bumi. Pertemuan Nabi\nMuhammad dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya mengandung isyarat bahwa Nabi akan\nmengalami permusuhan dan perlawanan dari kaum Yahudi sebagaimana dialami Nabi\nIsa dan Nabi Yahya. <\/p>\n\n\n\n<p>Di\nlangit ketiga, Nabi Muhammad berjumpa dengan Nabi Yusuf. Hikmah yang terkandung\nialah Nabi Muhammad akan mengalami permusuhan bahkan peperangan dengan\nsaudara-saudara Nabi sendiri sebagaimana dialami oleh Nabi Yusuf. Nabi Muhammad\njuga pada akhirnya akan memaafkan saudara-saudara beliau, yakni kaum Quraisy\nsebagaimana Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya. Pertemuan Nabi Muhammad\ndengan Nabi Idris di langit ke 4 mengandung isyarat bahwa Nabi akan mengalami\npengangkatan derajat&nbsp; sebagaimana dialami\nNabi Idris. <\/p>\n\n\n\n<p>Pertemuan\nNabi Muhammad dengan Nabi Harun di langit ke 5 mengandung isyarat bahwa Nabi\nakan disukai kembali oleh kaumnya setelah kembali ke Makkah (<em>fathu Makkah<\/em>).\nSedangkan di langit ke 6, pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Musa mengandung\nisyarat, <em>hidayah <\/em>berupa agama Islam melalui Nabi Muhammad yang\ndiperuntukkan kepada umat beliau, sebagaimana Nabi Musa menunjukkan <em>hidayah <\/em>kepada\nBani Israil. Di Langit ke tujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Bapak para Nabi\nyakni Nabi Ibrahim. Pertemuan tersebut mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad\nakan menyempurnakan syariat Islam dengan melaksanakan syariat warisan dari Nabi\nIbrahim yakni ibadah haji.<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian,\n<em>Wallahu a\u2019lam.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Oleh : <em>M. Choirun Nizar &#8211; Dosen Fakultas Agama Islam<\/em> UNISSULA<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Inni laushaddiquhu bi ab\u2019ada min dzalik. Ushaqqiduhu bikhabar as sama\u2019 (Tanggapan Abu Bakar Ash Shiddiq terhadap Kisah Isra\u2019 Mi\u2019raj) Isra\u2019 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2784,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2783","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","post_format-post-format-gallery"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"Inni laushaddiquhu bi ab\u2019ada min dzalik. Ushaqqiduhu bikhabar as sama\u2019 (Tanggapan Abu Bakar Ash Shiddiq terhadap Kisah Isra\u2019 Mi\u2019raj) Isra\u2019 [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2783"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2783\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}