{"id":2319,"date":"2017-06-13T09:05:59","date_gmt":"2017-06-13T02:05:59","guid":{"rendered":"http:\/\/ybw-sa.org\/?p=2319"},"modified":"2017-06-13T09:05:59","modified_gmt":"2017-06-13T02:05:59","slug":"memaknai-puasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/memaknai-puasa\/","title":{"rendered":"MEMAKNAI PUASA"},"content":{"rendered":"<p>ARTI PUASA<br \/>\nPuasa atau shoum berasal dari kata shooma \u2013 yashuumu \u2013 shouman \u2013 shiyaaman yang mempunyai arti menahan, mencegah dan menghentikan diri dari sesuatu. Makna ini sebagaimana yang disebutkan Allah ketika menceritakan tentang Maryam:<br \/>\n\u0625\u0650\u0646\u0651\u0650\u064a \u0646\u064e\u0630\u064e\u0631\u0652\u062a\u064f \u0644\u0650\u0644\u0631\u0651\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0646\u0650 \u0635\u064e\u0648\u0652\u0645\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0644\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064f\u0643\u064e\u0644\u0651\u0650\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0625\u0650\u0646\u0652\u0633\u0650\u064a\u0651\u064b\u0627<br \/>\n\u201c<em>Sesungguhnya aku telah bernazar puasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka tidak akan berbicara dengan siapapun pada hari ini<\/em>.\u201d (Maryam:26).<br \/>\nDalam ayat ini kata shoum berarti diam, atau berhenti berbicara.<br \/>\nKemudian setelah Islam datang dan shoum disyariatkan oleh Allah dengan turunnya surat Al Baqoroh ayat 183 , maka shoum didefinisikan oleh para ulama fiqh sebagai menahan diri dari semua yang membatalkan puasa , sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.<\/p>\n<p>MEMAKNAI PUASA : MENJADI HAMBA YANG BERTAKWA<br \/>\nJika kita kembali kepada makna shoum yang berarti menahan diri, lalu merenungkan ayat<br \/>\n\u064a\u064e\u0627 \u0623\u064e\u064a\u0651\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0622\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627 \u0643\u064f\u062a\u0650\u0628\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0635\u0651\u0650\u064a\u064e\u0627\u0645\u064f \u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064f\u062a\u0650\u0628\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0642\u064e\u0628\u0652\u0644\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0644\u064e\u0639\u064e\u0644\u0651\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u062a\u064e\u062a\u0651\u064e\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e<br \/>\n<em>\u201cHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa<\/em>\u201d ( Al Baqarah 183 )<br \/>\nmaka kita bisa memaknai ibadah puasa Ramadhan bukan hanya sebagai ibadah fisik tahunan tanpa makna yang bisa merubah kesadaran batin kita, namun juga sebagai sarana agar kita bisa memperbaiki diri dan selalu bertakwa kepada Allah.<br \/>\nAllah menghendaki kita menjadi orang yang bertakwa dengan berpuasa. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Untuk mencapai maqom takwa, yang harus kita lakukan adalah berpuasa dari setiap dorongan negatif yang mendorong kita kepada keburukan.<br \/>\nMakan,minum, berhubungan badan dan segala aktifitas yang kita yang bisa membatalkan puasa bukanlah hal yang buruk. Semua itu adalah hal yang manusiawi dan harus kita lakukan agar bisa bertahan hidup. Namun dibalik semua itu ada nafsu yang mengincar diri kita , sehingga kita tidak melihat apa yang lazim kita lakukan sebagai kebutuhan hidup, namun justru menjadi tujuan hidup.<br \/>\nOleh karena itu kita sering menyaksikan orang-orang yang dikuasai sifat rakus, sehingga rela mengabaikan rasa kemanusiaan demi mengenyangkan perut mereka sendir. Ada pula yang seakan tak pernah puas berzina, sehingga terjerumus ke dalam perilaku seks bebas yang menjatuhkan harkat dan martabat mereka sebagai khalifatullah fil ardh.<br \/>\nDengan mengendalikan diri dari hal-hal yang diperbolehkan, berarti kita berlatih untuk melihat semua itu hanya sebatas sarana agar kita diberi kekuatan untuk bisa terus beribadah kepada Allah, dan tidak terobsesi dengan berbagai kenikmatan yang sifatnya sementara. Karena obsesi pada nikmat duniawi adalah sumber musibah dalam kehidupan manusia. Penindasan , pembunuhan, perang, adalah puncak dari segala obsesi tersebut yang tak bisa manusia kendalikan, karena bukan Allah yang ada dalam kesadaran mereka, namun hal-hal remeh tersebut.<\/p>\n<p>TAK HANYA FISIK, HATI JUGA BERPUASA<br \/>\nTakwa yang menjadi tujuan kita berpuasa adalah amalan hati, sehingga yang harus kita lakukan adalah melatih hati kita. Rasulullah bersabda:<br \/>\n\u201c<em>Jika engkau berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu, lisan dan tanganmu juga ikut berpuasa.<\/em>\u201d (H.r. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah).<\/p>\n<p>Lalu beliau juga bersabda: &#8220;<em>Jika salah seorang di antara kalian berpuasa maka hendaknya tidak berkata keji dan fasik. Jika ada seseorang yang mengumpatnya hendaknya ia mengatakan, Saya sedang berpuasa\u2019<\/em>.\u201d (H.r. Bukhari-Muslim).<br \/>\nApa yang disabdakan Rasulullah bisa kita maknai sebagai puasa rohani. Puasa yang harus terus kita lakukan, meskipun fisik kita telah berbuka puasa. Karena kita akan terus berpikir dan merasakan banyak hal. Dan melihat, mendengar, dan berbicara adalah wujud ekspresi dari apa yang manusia pikirkan dan rasakan. Jika tidak ada pengendalian pikiran dan perasaan maka kita akan melihat, mendengar, berbicara dan melakukan apa yang tidak baik, sehingga pada akhirnya akan merusak pikiran dan hati kita. Inilah yang kemudian akan menghalangi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.<\/p>\n<p>MENGUATKAN RASA KEMANUSIAAN<br \/>\nSalah besar ketika kita berpuasa hanya dengan menahan lapar dan haus sampai waktu berbuka, namun setelah itu kita bisa memuaskan nafsu makan kita dengan berlebihan, sampai kita kehilangan kesadaran untuk memiliki rasa empati kepada orang lain.<br \/>\nRasulullah sendiri tidak pernah mencontohkan makan yang berlebihan ketika berpuasa. \u201c<em>Dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air<\/em>\u201d. HR Abu Dawud (no. 2356), Ad-Daruquthni (no. 240) dan Al-Hakim (no. 1576).<br \/>\nSunnah Rasulullah tersebut mempunyai hikmah yang mendalam. Selain tentu saja dari segi kesehatan yang terbukti baik untuk tubuh kita, Rasulullah juga memberi teladan kepada kita agar tidak menjadikan waktu berbuka puasa sebagai pemuas nafsu makan kita yang justru akan bertentangan dengan tujuan puasa yang disyariatkan Allah.<br \/>\nHikmah tersebut dikuatkan dengan sikap Rasulullah yang sangat dermawan dan semakin dermawan ketika bulan Ramadhan tiba. Beliau selalu memikirkan kehidupan orang miskin, dan beliau mengecam orang yang kikir dan tidak peduli dengan kesulitan orang lain.<br \/>\n<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2322\" src=\"http:\/\/ybw-sa.org\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/pengemis_20160129_154156.jpg\" alt=\"pengemis_20160129_154156\" width=\"629\" height=\"350\" \/><br \/>\nDalam sebuah hadis riwayat Imam Baihaqi, beliau bersabda \u201d<em>Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan.<\/em>&#8220;. (HR Baihaqi)<br \/>\nHadis tersebut menunjukkan kepada kita bahwa sikap acuh dan tidak peduli terhadap penderitaan orang lain adalah perusak iman. Oleh sebab itu dengan berpuasa seharusnya kita berusaha menyempurnakan iman kita, dengan mencoba berempati terhadap penderitaan mereka yang kelaparan, dan menguatkan rasa kemanusiaan kita. Rasulullah sendiri menyuruh kita untuk banyak bersedekah dan membantu meringankan beban orang lain walau hanya dengan sebiji kurma dan seteguk air.<\/p>\n<p>JUJUR KEPADA DIRI SENDIRI DAN IKHLAS KARENA ALLAH<br \/>\nPada puncaknya ibadah puasa akan membuat kita menjadi pribadi yang jujur kepada diri sendiri, dan mengikhlaskan amal shaleh karena Allah semata. Inilah yang menjadi kekhususan puasa dan dasar ketakwaan seorang hamba kepada Allah Dalam sebuah hadis Qudsi Allah, Rasulullah bersabda: \u201cAllah berfirman: <em>Setiap amal anak Adam itu untuk mereka sendiri sedangkan puasa itu untuk-Ku\u2026.<\/em>\u201d (Bukhari 3\/24, Muslim 5\/122, Nasa\u2019i 4\/59).<br \/>\nImam Mawardi menjelaskan dua alasan mengapa puasa itu tampak khusus dibanding ibadah lain. Pertama; Puasa mencegah kepura-puraan diri berikut nafsu yang menyertainya. Kedua; Puasa itu merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya yang tidak ditampakkan kecuali untuk Tuhannya.<br \/>\nDalam sebuah hadis shohih riwayat Imam Muslim, disebutkan bahwa tiga orang yang akan dimasukkan ke dalam neraka sebelum orang kafir adalah orang yang mati dalam jihad, orang berilmu yang mengajarkan ilmunya, dan ahli sedekah. Namun ketiganya melakukan amal baik tersebut karena riya\u2019 .<br \/>\nOrang yang riya\u2019 adalah orang yang tak mau jujur kepada dirinya sendiri. Dalam pandangannya dia adalah orang yang mulia, sehingga ia harus mempertahankan citra palsunya dihadapan orang lain dengan melakukan amal sholeh, agar terus dianggap baik, meskipun harus menjadikan Allah bukan sebagai tujuan utama amalnya,<br \/>\nDengan puasa kita berlatih untuk jujur kepada diri sendiri, dan menjauhi sifat riya\u2019, karena kita tidak mungkin memamerkan puasa kita yang juga dilakukan oleh orang lain. Kita juga mungkin saja membatalkan puasa tanpa diketahui siapapun kecuali diri kita, namun kita sadar ada Allah yang selalu mengawasi gerak-gerik kita sehingga tak berani membatalkannya dan memilih bersabar hingga waktu berbuka tiba.<br \/>\nJika kita terbiasa untuk selalu jujur kepada diri sendiri karena puasa yang kita lakukan, maka kesadaran ini akan terus melekat pada diri kita, sehingga amal apapun yang kita lakukan terhindar dari riya\u2019 yang hanya akan membinasakan kita di akherat kelak<br \/>\nSemoga di bulan Ramadhan yang mulia ini, kita bisa memaknai ibadah puasa ini dengan baik dan menjadikannya sarana untuk menggapai maqom takwa yang senantiasa mendekatkan kita kepada Allah.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ARTI PUASA Puasa atau shoum berasal dari kata shooma \u2013 yashuumu \u2013 shouman \u2013 shiyaaman yang mempunyai arti menahan, mencegah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2389,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-2319","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/author\/ybwsa\/"},"rttpg_comment":2,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/category\/kajian\/\" rel=\"category tag\">Kajian<\/a>","rttpg_excerpt":"ARTI PUASA Puasa atau shoum berasal dari kata shooma \u2013 yashuumu \u2013 shouman \u2013 shiyaaman yang mempunyai arti menahan, mencegah [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2319","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2319"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2319\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2319"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2319"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ybw-sa.org\/english\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2319"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}