Menurutnya ada banyak cara berbakti kepada orang tua. Pertama, tidak berkata uf. Kata uf secara bahasa dapat diartikan “ah”, “hus” atau ucapan-ucapan lain yang mengandung unsur penolakan atau pembangkangan kepada orang tua. Namun perlu diketahui, pembangkangan kepada orang tua dalam bentuk kasar maupun halus tidak dibenarkan. Oleh karena itu, berbohong adalah salah satu bentuk pembangkangan kepada orang tua.

Kedua, tidak berbicara dengan nada tinggi atau keras. Berbicara dengan nada keras atau tinggi ini seperti memanggil dengan kencang, membentak dan lain sebagainya. Kalau sekedar berbicara dengan nada tinggi saja sudah dilarang, apalagi menghujat atau berkata kotor kepada orang tua. Tentunya ini lebih dilarang lagi.

Ketiga, Berbicara dengan sopan santun. Pada hakikatnya, berbicara sopan dan santun harus dilakukan kepada siapapun baik orang yang lebih muda, orang yang miskin, terlebih lagi kepada kedua orang tua.

Keempat, bersikap tawadhu’ atau rendah hati di hadapan orang tua. Sikap tawadhu’ ini dapat ditunjukkan dengan berbagai hal, seperti duduk lebih rendah di hadapan orang tua, mencium tangan kedua orang tua, menundukkan kepala, dan sikap lain yang cenderung menyejukkan. Namun perlu diketahui, bahwa rasa rendah hati ini bukan karena terpaksa melaksanakan perintah, namun karena benar-benar disertai rasa hormat berpadu kasih sayang.

Kelima, mendoakan kedua orang tua. Perintah yang terakhir adalah mendoakan orang tua. Doa ini sebagai wujud pencarian rahmat Allah bagi orang tua. Berdoa untuk orang hendaknya dilakukan setiap saat, terutama setelah shalat lima waktu.