Perang salib telah meninggalkan kesan mendalam dalam tubuh Kristen. Gagasan mengorganisasi gerakan sitematis dan terencana mulai dikembangkan. Raimond Loll dari Spanyol tercatat sebagai misionaris pertama yang melaksanakan misi pasca perang salib. Secara serius, ia aktif mempelajari Bahasa Arab dan tradisi di beberapa negeri muslim untuk memetakan pergerakan. Pengalamannya malang melintang di dunia muslim telah menginspirasi banyak penginjil sepeninggalnya.

KOLONIALISME SEBAGAI KENDARAAN

Selanjutnya kegiatan misionarisme bergerak dengan membonceng pada kolonialisme terutama dalam menganeksasi negera-negara muslim. Misionarisme itu sendiri bahkan menjadi salah satu ujung tombak dari agenda orientalisme  di kawasan Timur. Ketika para misionaris mendapat kesempatan mendirikan pusat-pusat kegiatan di negara Islam (Turki Utsmani), kesempatan itu dimanfaatkan untuk melakukan agitasi terhadap warga negara. Pada 1841 misalnya, terjadi keributan di pegunungan Libanon antara penduduk penganut Kristen Maronit dan kaum Druze.

Perselisihan antara kaum Maronit dan Druze itu diprovokasi oleh penjajah Inggris (yang bersekongkol dengan kaum Druze) dan Perancis (yang bersekongkol dengan kaum Maronit). Akibat provokasi pendeta Maronit, pada 1857 terjadi revolusi bersenjata dimana para petani Kristen melawan tuan tanah Druze. Kerusuhan merata di seluruh Libanon.

Di Damaskus propaganda kebencian segaja disebar untuk memancing umat Islam agar menyerang daerah Kristen pada 1860. Keributan tersebut memaksa Turki Utsmani turun tangan. Sekalipun Turki berhasil menenangkan keadaan, Inggris dan Perancis memanfaatkan kerusuhan yang mereka dalangi sendiri di wilayah Syiria dan Libanon itu untuk menginvasi wilayah Utsmani.  Penjajah memaksa Turki untuk memecah wilayah Syam menjadi 2 propinsi yakni Libanon dan Syiria, dimana ahirnya Libanon dikuasai oleh orang Kristen. Sejak itulah Libanon menjadi penghubung antara imperialis dengan negeri-negeri Islam.

Apa yang terjadi di Indonesia pun tidak jauh berbeda, masuknya bangsa Barat yang berlanjut dengan penjajahan, juga tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan misi. Dalam sejarah, kehadiran mereka memang tidak terpisahkan dengan slogan ‘Gold, Glory, and Gospel’ (mencari kekayaan, mencari kejayaan, dan penyebaran Injil), baik Portugis dengan penyebaran Katolik maupun Belanda dengan Protestanisme dan lain sebagainya.

Kegiatan misionarisme, dalam sejarahnya, memang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas imperialisme Barat untuk menguasai, memecah belah dan mencegah persatuan terbentuk di belahan dunia Islam. Indonesia merupakan salah satu negera yang mendapatkan imbas dari tiga serangkai yang terdiri dari kolonialisme, orientalisme, dan tentu saja misionarisme.

MISI MODERN

Penjajahan terhadap dunia Timur ternyata tidak cukup untuk mampu memupus spirit Timur agar bisa diganti dengan worldview Barat. Oleh karena itu maka misionarisme diharapkan tetap bisa menjadi ujung tombak . Samuel Zwemmer, dalam sebuah Konferensi Misionaris tingkat dunia di Yerusalem pada 1935, menyatakan bahwa bahwa “Tujuan kita tidak secara langsung untuk mengkristenkan umat islam karena hal ini tidak akan sanggup kita laksanakan. Namun yang perlu diingat adalah menjauhkan kaum muslimin dari ajaran islam. Ini yang harus dicapai walaupun mereka tidak bergabung dengan kita”. Zwemmer sendiri bukan merupakan penganut Kristen. Ia adalah seorang Yahudi dimana dirinya memiliki kepentingan untuk ikut serta mengurangi populasi muslim dunia.

Rekomendasi Zwemmer tersebut diterima sebagai strategi untuk mendekati Islam. Kristenisasi tidak harus berujung pada konversi agama, dimana seorang muslim berpindah menjadi penganut Agama Masehi. Program ini sudah dianggap memiliki keberhasilan dalam taraf tertentu apabila sanggup membawa kaum muslimin abai dan tidak bangga terhadap ajarannya sendiri.

Usaha-usaha penginjilan ke dunia Islam mendapatkan sokongan dari berbagai pihak. Umat Masehi dari berbagai denominasi dihimbau untuk menjalankan misi. Seruan Paus Benecdictus XVI pada 10 April 2007 di Balkon Residen Castelgando, hanya merupakan salah satu contoh bahwa kalangan Katolik pun tidak melewatkan kesempatan:

Catholics should take their all over the world, should not fear showing their faith in the furthest corners of the world. Evangelism was one of the meaning of Easter, urgent that men and women of our era know and meet with Jesus.”

(Laporan Reporter Kantor Berita AFP, Vincenzo Pinto, “Pope Calls for Global Evangelism, April, 10, 2007, 06:50)

Agenda-agenda tersebut tentu harus didukung pula dengan pengorganisasian yang kuat. Setidaknya ada dua tipologi lembaga yang bergerak dalam dunia penginjilan yakni: (1) Pure Mision (Misi Murni / Misi Gerejawi) yaitu   lembaga misi yang berbasis pada misi gerejawi yang sesungguhnya; (2) Mixture Mision (Misi Campuran antara Gereja, Inteljen, dan Politik) yaitu lembaga misi yang berorientasi pada kepentingan politis, diplomasi, dan intelejen yang menumpang pada misi gerejawi. Tantangan terorganisasi semacam inilah yang akan dihadapi oleh umat Islam, termasuk di Indonesia.

STRATEGI DAKWAH ISLAM

Peringatan Allah bahwa “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka ….” (QS. 2: 120), tentu harus mendapat perhatian serius. Syiar “toleransi” yang hari ini diserukan di tanah air, masih jauh panggang dari api dalam memupus “hasrat” untuk memurtadkan penganut Islam. Seolah hanya berfungsi sebagai pemanis bibir dan tidak jarang digunakan sebagai alasan untuk menuding muslimin sebagai kaum intoleran.

Disini dakwah hendaknya mampu berperan untuk mengawal perubahan. Konsep-konsep Islam harus terus diperkenalkan kepada umat agama lain. Tidak disangkal, kesalahan persepsi tentang Islam telah banyak berkembang di kalangan mereka. Oleh karena itu dakwah menjadi solusi untuk mengatasi persoalan ini. Allah berfirman :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(QS. An Nahl: 125)

Guna menciptakan sebuah perubahan mendasar, dakwah hendaknya diselenggarakan dengan struktur dan pengorganisasian yang baik. Perencanaan dan program-program dakwah menjadi penting dibicarakan bersama antar setiap elemen umat. Format syiar agama kepada masyarakat muslim dan terutama non-muslim perlu digagas kembali. Demikian juga kebanggaan masyarakat muslim terhadap keislaman yang dianutnya perlu ditumbuhkan kembali. Dengan demikian strategi dakwah Islam membentengi akidah perlu diarahkan guna:

  1. Mencetak dan mengkader dai-dai yang siap berdialog secara keilmuan maupun karya melalui dakwah kepada penganut agama lain. Sekaligus membangkitkan kesadaran bahwa setiap muslim tanpa terkecuali adalah seorang da’i.
  2. Meningkatan kualitas muslim melalui pendidikan, pelatihan, dan upaya-upaya pengembangan.
  3. Mewarnai dunia akademik dan bidang-bidang kehidupan yang strategis dengan wacana Islam secara terstruktur dan terorganisasi.
  4. Organisasi–organisasi Islam diharapkan lebih peduli dengan agenda bersama keumatan dan bukan terkungkung dalam strategi golongan atau komunitas yang terbatas. Pola pengorganisasian hendaknya tidak lagi terjebak dalam “organisasi jaringan” yang selalu mementingkan kepentingan internalnya, namun mulai menggagas “jaringan organisasi” yang mampu bergerak dinamis memikirkan eksistensi Islam. Dengan demikian penyamaan visi dan misi dakwah akan dapat diwujudkan bersama.

Oleh : Susiyanto, M.Ag. – (Koordinator Bidang Dakwah dan Kristologi Mualaf Center Kab. Semarang)