Pesatnya perkembangan teknologi – secara langsung atau tidak – membawa pengaruh terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dihadapkan pada persoalan yang semakin kompleks yang mengakibatkan perilaku menyimpang pada peserta didik (pelajar). Praktik seks bebas merupakan salah satu contoh perilaku menyimpang yang dilakukan para pelajar. Salah sebab yang mengantarkan mereka pada perilaku tersebut adalah karena mudahkan mengakses perilaku yang sama dari teknologi, salah satunya internet.

Pada satu isi Indonesia memiliki tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu menusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi perkerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Apabila di kalangan pelajar masih terdapat perilaku menyimpang seperti asusila dan sebagainya, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan di Indonesia – secara umum – belum mencapai tujuannya yang semestinya.

Perlu dipahami, bahwa pendidikan tidak sekedar permasalahan status sebuah lembaga. Melainkan permasalahan yang komperehensif, yang melibatkan setiap unsur di dalamnya, karena pendidikan adalah sebuah sistem. Sebagai sebuah sistem tentu banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, mencermati permasalahan yang dialami oleh para pelajar harus menggunakan kaca mata yang lebar, supaya mampu memperhitungkan secara jelas faktor apa yang paling berpengaruh. Artinya, tidak menjadikan pelajar yang menjadi subjek perilaku menyimpang sebagai kambing hitam secara membabi buta.

Syaikh Burhanuddin  al-Zarnuji adalah salah satu pakar pendidikan yang sangat populer di kalangan umat Islam, terutama di kalangan pesantren. Dalam karya monumentalnya, ta’limul muata’llim, ia mengutip perkataan Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan:

ألَا لَا تَنَالُ اْلعِلْمَ إلَّا بِسِتَّةٍ    #    سَأُنْبِيْكَ عَنْ مجْمُوعِهَا بِبَيَانٍ

ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ   #   وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانٍ

“Ingatlah, kalian tidak akan memperoleh ilmu, kecuali memenuhi enam hal, yaitu kecerdasaran, semangat, kesabaran, biaya, petunjuk guru, dan waktu yang relatif lama.”

Meskipun guru bukan satu-satunya pihak yang paling bertanggung jawab, namun ia memiliki posisi sebagai pihak paling diharapkan peran dan fungsinya untuk membenahi perilaku anak bangsa. Peradaban yang selamat dan menyelamatkan membutuhkan sosok guru yang terampil mengajarkan ilmu (pengajar) dan bisa jadi suri tauladan (pendidik). Filosofi Jawa mengatakan bahwa guru memiliki makna digugu lan ditiru (dipercaya dan dianut). Hal ini berarti guru itu seyogyanya bisa dianut dan ditiru segala tingkah lakunya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa guru adalah figur bagi peserta didik di tengah gempuran teknologi. Peran guru yang sangat diperlukan dalam membekali dan membentuk kepribadian anak didik, membangun peradaban suatu masyarakat dan bangsa.

Apabila kita mencari rule modell seorang guru, maka ingatan dan mata kita akan tertuju pada manusia terbaik di alam semesta, yaitu Muhammad Rasulullah Saw. Satu-satunya manusia yang diciptakan sesuai dengan tujuaannya.  “Aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak (umat manusia).” (HR. Ibnu Majah)

Muhammad patut katakan sebagai rule modell pendidik karena ia memiliki akhlak yang mulia. Sehingga ia benar-benar patur dipercaya dan dianut segala perilakunya. Sebagaimana firman Allah Swt :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”

QS. Al-Qalam ayat 4

Diantara perilaku Muhammad yang patut dijadikan dijadikan referensi seluruh pendidik adalah sebagai berikut:

Pertama, Mengajar bukan karena tujuan ingin mendapatkan imbalan dan bukan pula karena mengharapkan ucapan terima kasih, melainkan sebagai salah satu cara untuk beribadah karena mengharapkan ridha Allah Swt.

Kedua, mengingatkan murid akan akhlak yang buruk dengan ungkapan kasih sayang, tidak secara terang-terangan, dan dengan ungkapan yang lemah lembut bukan celaan. Alangkah lebih baiknya para guru merenungi kata-kata hikmah dari Imam As-Syafie: “Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu.”.

Ketiga, guru memberikan penjelasan secara gamblang agar bisa dipahami oleh semua murid, bahkan oleh murid dengan kemampuan daya tangkap rendah sekalipun. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Aisyah, salah satu metode Rasulullah dalam memberikan penjelasan kepada para sahabatnya adalah dengan cara sangat jelas dan rinci tanpa tergesa-gesa.

Keempat, guru menyayangi murid-muridnya seperti mereka menyayangi anak-anaknya sendiri. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah seperti orangtua kepada anaknya.” (HR. Ibnu Majah).

Kelima, hendaknya guru berbuat sesuai dengan ilmunya, tidak mendustakan antara perkataan dan perbuatan. Allah SWT berfirman:

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? …”

(QS. Al-Baqarah: 44).

Berangkat dari hal tersebut, seorang pendidik memiliki peranan yang penting dalam suksesi pendidikan di negeri ini. Oleh karena itu, para pendidik hendaknya mencari rule modell yang tepat. Peringkat tertinggi figur seorang guru adalah Rasulullah dengan segala perilaku mulianya yang patut ditiru dan dianut oleh setiap umat. Sehingga guru benar-benar patut untuk digugu lan dituru bukan wagu lan saru.

Oleh : Toha Makhsun, MPd – Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA