Inni laushaddiquhu bi ab’ada min dzalik. Ushaqqiduhu bikhabar as sama’

(Tanggapan Abu Bakar Ash Shiddiq terhadap Kisah Isra’ Mi’raj)

Isra’ Mi’raj, Menembus Batas Nalar Manusia

Salah satu untaian kisah indah dalam sirah nabawiyah yang telah lama diabadikan momentumnya sebagai hari besar umat Islam di Indonesia ialah Isra’ Mi’raj. Latar belakang Isra’ mi’raj ialah terjadinya beberapa peristiwa menyedihkan bagi Nabi Muhammad Saw. yang kemudian, tahun tersebut dikenal sebagai ‘amul huzni (tahun kesedihan). Kesedihan Nabi Muhammad Saw. pada tahun itu karena istri dan paman beliau, yakni Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia. Keduanya sangat berjasa dalam perjuangan Nabi sebagai pembela pemikiran, penyedia tenaga dan harta dalam perjuangan Nabi menegakkan Islam. Dua tahun setelah tahun kesedihan tersebut, Nabi diisra’kan.

Peristiwa Isra’ Mi’raj secara lengkap dapat ditelusuri melalui beberapa riwayat hadis sahih. Diawali dengan peristiwa pembelahan dada Nabi untuk dibersihkan hatinya dari segala bentuk kotoran ketika beliau tengah tidur di rumah Ummu Hani’. Malaikat Jibril kemudian menyiapkan kendaraan untuk Nabi Muhammad Saw. yang dinamakan sebagai Buraq, hewan putih dengan langkah sejauh penglihatannya. Perjalanan Nabi dari Makkah menuju Baitul Maqdis berlangsung sangat cepat. Sesampainya di Baitul Maqdis, Buraq diikat pada sebuah batu. Kemudian Nabi menjalankan shalat 2 rakaat di Masjidil Aqsa.

Perjalanan Isra’ dilanjutkan dengan perjalanan mi’raj yakni naiknya Nabi dari Masjidil Aqsa menuju langit yang bertingkat-tingkat. Dalam perjalanan tersebut, melewati tingkatan demi tingkatan langit, Nabi Muhammad bertemu dengan  Nabi Adam as. di langit pertama. Beliau bertemu denganNabi Isa as. dan Nabi Yahya as. di langit kedua. Hingga berurutan Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit ke empat, Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh.

Dalam Tafsir Ash Shawi karya Imam Ahmad Ash Shawi disebutkan, setelah dari langit ke 7, Nabi Muhammad dinaikkan lagi hingga tingkatan ke 8 bernama sidratul muntaha. Kemudian beliau dinaikkan ke atas lagi pada tingkatan ke 9 yang dinamakan sebagai mustawa, di sinilah Malaikat Jibril as. yang sedianya mendampingi Nabi dari awal perjalanan, berhenti menemani Nabi karena keterbatasannya. Hingga kemudian Nabi dinaikkan lagi sampai pada Arsy. Di sinilah Nabi Muhammad Saw. bertemu dan dapat melihat Allah Swt. dengan penglihatan beliau atas izin Allah. Peristiwa Isra’ Mi’raj diakhiri dengan perintah berupa shalat 5 waktu atas Nabi Muhammad Saw. beserta seluruh umat beliau.

Syariat Termulia dalam Peristiwa Agung

Oleh-oleh terindah atas perjalanan indah Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Isra’ Mi’raj adalah kewajiban menjalankan syariat paling utama bernama shalat. Oleh karenanya, momentum bulan Rajab sebagai bulan terjadinya Isra’ Mi’raj (menurut pendapat masyhur), seharusnya dapat menggugah semangat umat Islam akan pentingnya ibadah shalat. Karena setidaknya, ada beberapa alasan mendasar yang menjadikan shalat sebagai ibadah paling utama yakni antara lain:

  1. Shalat merupakan Identitas keimanan setelah syahadat
  2. Shalat merupakan pembeda antara iman dan kufur
  3. Shalat merupakan tiang/pilar agama
  4. Shalat adalah amal yang pertama kali dilihat, sekaligus sebagai barometer amal-amal lainnya
  5. Shalat juga merupakan kunci surga.

Perhatian terhadap ibadah termulia tentunya dimulai dengan introspeksi pelaksanaan shalat oleh diri sendiri. Ketika shalat wajib masih banyak yang tertinggal, maka seharusnya diperbaiki dengan menyempurnakan pelaksanaan shalat wajib 5 waktu. Ketika telah lengkap, maka penyempurnaan tersebut diarahkan kepada pelaksanaan shalat-shalat sunnah sebagaimana yang dilaksanakan Nabi Muhammad Saw. Ketika shalat wajib dan sunnah telah terpenuhi dengan baik, maka perbaikan diarahkan pada kualitas shalat sebagai sarana komunikasi dengan sang Khaliq, yakni dengan berbuat ihsan.

Artinya upaya untuk menghadirkan Allah dalam beribadah, sehingga menimbulkan perasaan khusyu’ (ketenangan) dan khudhu’ (ketundukan). Ketika seorang hamba mampu berbuat ihsan dalam beribadah, khususnya shalat, diharapkan ia juga akan mampu berbuat ihsan dalam bermuamalah dengan  sesama makhluk. Karena pada hakikatnya, keshalehan seseorang tidak hanya diukur dengan kebaikannya dalam berinteraksi dengan Allah (ibadah), melainkan juga kebaikannya ketika berinteraksi dengan sesama makhluk (muamalah).

Mengurai Makna Mendalam Isra’ Mi’raj

Peristiwa agung bernama Isra’ diabadikan dalam Alquran surat Al Isra’ ayat 1. Sedangkan peristiwa Mi’raj diabadikan dalam beberapa hadis shahih. Perjalanan luar biasa bernama Isra’ Mi’raj yang dilalui oleh Nabi Muhammad Saw. dengan melintasi 4 alam sekaligus, yakni alam nasut (alam jasad), alam malakut (malaikat), alam jabarut (sirr/ruh), alam lahut (sirr al sirr/Arsy). Alam nasut yang dimaksudkan adalah ketika perjalanan Nabi dari Makkah menuju Baitul Maqdis. Alam Malakut ialah ketika bertemu dan berinteraksi dengan para Malaikat. Alam Jabarut yang dimaksudkan dalam perjalanan Isra’ Mi’raj ialah tatkala Nabi bertemu dengan ruh para Nabi. Sedangkan alam lahut ialah ketika Nabi naik ke Arsy dan bertemu dengan Allah Swt.

Perjalanan lintas alam yang dilalui oleh manusia terbaik sejagad raya tentunya mustahil jika terlewatkan tanpa makna. Imam As Suyuthi dalam Kitab Al Isra’ Wal Mi’raj merangkum hikmah perjalanan Nabi ketika Isra’ Mi’raj dalam beberapa point. Di antaranya ialah, peristiwa Isra’ Mi’raj yang diabadikan oleh Alquran dengan redaksi ‘سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ’ merupakan bukti kongkret kedekatan dan kasih sayang Allah terhadap Nabi Muhammad. Karena huruf ‘ba’’ memiliki faedah mushahabah yang artinya, pendampingan dan penyertaan Allah terhadap Nabi dengan kebaikanNya dan pertolonganNya.

Isra’ Mi’raj juga mengandung hikmah keharusan pembersihan diri dari hal-hal yang buruk ketika seorang hamba ingin bertemu dengan Tuhannya. Karena peristiwa Isra’ Mi’raj didahului dengan pembersihan hati Nabi oleh Malaikat Jibril. Pelaksanaan Isra’ Mi’raj pada malam hari mengandung pembelajaran bahwa malam hari merupakan waktu yang indah untuk berkomunikasi dengan Allah. Hingga banyak Ulama yang mengatakan tentang malam hari sebagai waktu khusyuk, saat berkumpul dengan yang dicintai. Berbeda dengan sebagian filsuf yang mengidentikkan malam dengan kegelapan yang hina, sementara di dalam Alquran, waktu malam beberapa kali dijadikan sumpah karena keistimewaannya.

Peristiwa pertemuan Nabi Muhammad Saw. dengan para Nabi di tiap tingkatan langit juga mengandung hal yang bersifat informatif. Imam As Suyuthi mengatakan, bahwa pertemuan Nabi Muhammad dengan para Nabi mengandung sebuah informasi rahasia atau isyarat dari Allah tentang keserupaan sesuatu yang akan dialami Nabi Muhammad dengan para Nabi yang dijumpai. Pada langit pertama, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Adam. Isyarat yang terkandung adalah Nabi akan keluar dari Makkah untuk hijrah ke Madinah sebagaimana Nabi Adam keluar dari surga menuju bumi. Pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya mengandung isyarat bahwa Nabi akan mengalami permusuhan dan perlawanan dari kaum Yahudi sebagaimana dialami Nabi Isa dan Nabi Yahya.

Di langit ketiga, Nabi Muhammad berjumpa dengan Nabi Yusuf. Hikmah yang terkandung ialah Nabi Muhammad akan mengalami permusuhan bahkan peperangan dengan saudara-saudara Nabi sendiri sebagaimana dialami oleh Nabi Yusuf. Nabi Muhammad juga pada akhirnya akan memaafkan saudara-saudara beliau, yakni kaum Quraisy sebagaimana Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya. Pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Idris di langit ke 4 mengandung isyarat bahwa Nabi akan mengalami pengangkatan derajat  sebagaimana dialami Nabi Idris.

Pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Harun di langit ke 5 mengandung isyarat bahwa Nabi akan disukai kembali oleh kaumnya setelah kembali ke Makkah (fathu Makkah). Sedangkan di langit ke 6, pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Musa mengandung isyarat, hidayah berupa agama Islam melalui Nabi Muhammad yang diperuntukkan kepada umat beliau, sebagaimana Nabi Musa menunjukkan hidayah kepada Bani Israil. Di Langit ke tujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Bapak para Nabi yakni Nabi Ibrahim. Pertemuan tersebut mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad akan menyempurnakan syariat Islam dengan melaksanakan syariat warisan dari Nabi Ibrahim yakni ibadah haji.

Demikian, Wallahu a’lam.

Oleh : M. Choirun Nizar – Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA