AD-DAHRIYYAH DAN KEMATIAN

Bagi umat Islam, membicarakan kematian sama pentingnya dengan menguraikan konsep tentang kehidupan. Kedua konsep ini tidak dapat berdiri sendiri. Mereka adalah kondisi yang saling berkaitan dan sebagai sebuah “pasangan”, keduanya memiliki perbedaan mendasar.  Dalam Al-Qur’an, kata al-mawt (mati) digunakan sebanyak 50 (lima puluh) kali dalam bentuk tunggal (mufrad) dan 6 (enam) kali dalam bentuk jama’. Sementara kata hayat (hidup) disebutkan sebanyak 76 (tujuh puluh enam) kali. Penggunaan kata hayat tersebut sebanyak 68 (enam puluh delapan) kali dikaitkan dengan kata ad-dunya. Dengan demikian kehidupan sebagai lawan dari kematian dihubungkan secara langsung dengan konsep tentang dunia.

Kematian itu sendiri bukan merupakan batas paling akhir dari kehidupan manusia. Kematian hanya menjadi batas akhir persentuhan antara manusia dengan alam dunia. Setelahnya, kematian menjadi titik awal yang menandai dimulainya kehidupan hakiki, yaitu di alam akhirat. Secara tegas Islam menolak pemikiran kelompok ad-Dahriyyah, dari kalangan kaum kafir dan musyrikin Arab, yang menyatakan bahwa kehidupan dunia akan berakhir dengan datangnya kematian. Penolakan terhadap pemikiran tersebut, diberitakan oleh Allah dalam Al Qur’an sebagai berikut:

Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka hanya menduga-duga saja.”

(QS. Al Jâtsiyah: 24)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keyakinan kaum ad-Dahriyyah muncul dari sejumlah pemikir jahiliyyah yang mengingkari konsep penciptaan dan berkeyakinan bahwa makhluk hidup akan dikembalikan ke dalam bentuknya yang semula. Sebagian dari mereka bahkan sejak awal telah menolak keberadaan Sang Pencipta. Mereka juga meyakini bahwa setiap tiga puluh enam ribu tahun sekali segala sesuatu akan dikembalikan kepada bentuk asalnya. Mereka mengira bahwa kehidupan akan berulang terus-menerus tanpa memiliki batas akhir. Pemahaman menyimpang semacam itu tentu akan berimbas pada penegasian sejumlah konsep kunci dalam Islam, termasuk tentang hari berbangkit (QS. Al-An’am: 29) atau surga dan neraka.

Ketika menjelaskan tentang hakikat kematian yang akan menimpa semua makhluk yang dianugerahi kehidupan, Al Quran lantas menghubungkannya dengan konsep surga dan neraka. Hal ini diungkapkan oleh Allah sebagai berikut:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Ayat di atas dengan sendirinya memberikan gambaran kepada umat Islam bahwa kematian adalah pemutus kenikmatan dunia. Setelah manusia mengalaminya maka ia akan segera memulai pertanggungjawaban kehidupannya untuk memperoleh kenikmatan di surga atau justru jatuh dalam kesengsaraan di neraka. Rasulullah mengingatkan sembari menyitir Surat Ali ‘Imran ayat 185 di atas dengan menyatakan, ‘Satu tempat cemeti di Surga itu lebih baik dari dunia dan semua isinya. Bacalah bila kalian berkenan: “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.’ (HR. Bukhari, 6415 dan Muslim, 1881, dari hadits Sahal bin Sa’ad).

BAHAYA KEMATIAN

Kematian merupakan sebuah peristiwa yang pasti akan terjadi kepada setiap yang hidup. Dalam membicarakan konsep ini Al Quran seringkali mewacanakan gagasan secara kontemplatif. Diantaranya :

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan“. (QS. Al-Jumu’ah: 8).

Sedemikian pentingnya pembicaraan tentang konsep kematian, maka tidak heran jika para shahabat dan ulama’ setelahnya senantiasa mengingatkan agar manusia selalu mempersiapakan diri dalam menghadapi kematian. Sebab manusia tidak mengetahui kapan waktu itu akan tiba sementara syahwat manusia seringkali membawanya pada kelalaian. Kematian  menyimpan sebuah bahaya yang setiap saat mengintai manusia yang lalai dari mengingat mati (dzikr al-mawt). Bencana besar akan mendatangi seorang hamba apabila kematian bertandang dalam keadaaan mengalami sû’ul khatimah (akhir yang buruk).

Hal itu senada dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa kematian bukan sekedar sesuatu yang menakutkan, namun di dalamnya terdapat potensi yang bisa menjerumuskan manusia ke dalam bahaya. Potensi bahaya itu akan muncul jika manusia tidak pernah memikirkan sedikit pun tentang hakikat kematian itu sendiri. Mereka dilalaikan oleh kelezatan dunia yang menipu dan kalbunya kosong karena disibukkan dengan keinginan untuk mengejarnya. Oleh karena itu maka setiap orang membutuhkan persiapan tersendiri untuk menghadapi kematian. Persiapan semacam ini seharusnya bersifat kontinu dan tanpa henti, mengingat datangnya kematian tidak dapat diduga atau diramalkan oleh manusia. Imam Hasan al-Bashri menyatakan bahwa, “Kematian itu membuka kekurangan dunia, maka kematian tidak meninggalkan kesenangan bagi manusia yang berakal”.

Jadi, meski kematian itu menakutkan, karena hal itu merupakan sebuah kepastian maka setiap orang harus senantiasa mewaspadai sembari mempersiapkan diri. Kematian bukan merupakan sesuatu yang harus menimbulkan kesedihan tak berujung. Badiuzzaman Said Nursi, ulama’ besar Turki, dalam Al-Mektûbât-nya ketika menyikapi kematian salah seorang anak dari pengikut Thullâbun nûr – majlis ilmu yang didirikannya-, menyatakan, “Seandainya dunia kekal abadi, seandainya manusia kekal selamanya di dalamnya, atau seandainya perpisahan bersifat abadi, tentu kesedihan yang pedih dan duka lara yang ada bisa dimaklumi. Namun, karena dunia merupakan negeri jamuan, maka kemana anak yang meninggal itu pergi, kita semua juga akan berangkat ke tempat yang sama. Lagi pula yang merasakan kematian bukan hanya dia. Namun ia (kematian) adalah jalan yang dilalui semua orang”.

MENGINGAT MATI

                Imam Al Ghazali dalam Ihya’ mengingatkan bahwa orang-orang yang paling sulit mengingat kematian biasanya terdiri dari mereka yang sangat gandrung dengan dunia dan memuja syahwatnya. Kecenderungan terhadap dunia semacam ini biasanya menyebabkan panjang angan-angan yang pada giliran selanjutnya memunculkan hijab atau penghalang antara dirinya dengan mengingat kematian. Kadang-kadang ia memandang jauh kematian karena ia berada dalam kondisi sehat. Tanpa ia sadari kematian itu bisa sedemikian dekat dan berlangsung tiba-tiba. Saat ditanya oleh ‘Aisyah tentang kematian yang terjadi secara tiba-tiba, Rasulullah saw menyatakan, “Itu (kematian yang tiba-tiba) adalah istirahat bagi seorang mukmin dan kematian yang menyedihkan bagi orang yang fajir (suka berbuat keburukan) ”. (HR. Ahmad, 23891)

                Oleh karena itu cukuplah kematian menjadi pengingat manusia. Ia adalah makhluk yang fana’ dan akan tiba gilirannya kembali kepada Sang Pencipta. Dengan demikian, manusia akan senantiasa menyegerakan berbekal amal kebaikan tanpa menunda-nundanya. Al-Mandzir menyatakan, “Aku mendengar Malik bin Dinar berkata kepada dirinya, “Celaka kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu. Celakalah kamu, bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu.” Sehingga ia mengulanginya yang demikian itu sampai enam puluh kali yang aku mendengarnya dan ia tidak melihatku”. Apa yang dimaksud dengan “urusan yang akan segera datang” dalam ungkapan Malik bin Dinar tersebut ? Hal itu tidak lain adalah kematian.

Rasulullah saw mengingatkan untuk, “Manfaatanlah lima perkara sebelum lima perkara (yakni) masa mudamu sebelum datang masa tuamu; masa sehatmu sebelum masa sakitmu; masa kayamu sebelum datangnya kefakiranmu;  masa lapangmu sebelum masa sibukmu; hidupmu sebelum datang matimu”. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

Dengan mengingat kematian maka seorang mukmin akan mendapati dirinya berada dalam sejumlah kondisi menguntungkan diantaranya:

(1) Mengingat kematian termasuk ke dalam amalan yang dicontohkan oleh Nabi. Dengan mengamalkan itu dalam kehidupan sehari-hari maka seseorang akan beroleh ganjaran dari Allah; (2) Mengingat kematian akan membawa ke-khusyu’-kan dalam shalat dan mempertinggi kualitas ibadah-ibadah lainnya;

(3) Mengingat kematian akan memotivasi manusia untuk mempersiapkan perjumpaannya dengan Allah. Ia akan berusaha untuk memperbanyak amaliyah kebaikan selama di dunia;

(4) Mengingat kematian akan menghindarkan manusia dari perilaku dan akhlak yang tercela;

(5) mengingat kematian akan membawa manusia pada kehidupan yang berkualitas dan meninggalkan hal-hal yang sia-sia, sebagaimana dinyatakan Rasulullah, “Seandainya kalian banyak mengingat pemutus kenikmatan, niscaya kalian tidak banyak berbicara seperti ini, perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan” (HR. Turmudzi, 2648). Selain itu masih banyak manfaat lain yang dapat diperoleh manusia dengan senantiasa mengingat kematian.

Mudah-mudahan kita termasuk diantara hamba Allah yang dilimpahi akal yang sehat dan keimanan yang teguh sehingga senantiasa mampu mengingat tentang akan datangnya pemutus kenikmatan berupa kematian. Imam Hasan al-Bashri menyebutkan, “Tidaklah aku melihat orang berakal melainkan aku mendapati ia waspada terhadap kematian dan bersedih atasnya”. Sejalan dengan pernyataan Hasan al-Bashri tersebut, Ar-Rabi’ bin Khaitsam mengungkapkan, “Tidaklah perkara ghaib yang ditunggu oleh mukmin yang lebih baik baginya daripada kematian”.

Wallahu a’lam.[]

Oleh : Susiyanto – Dosen Fakultas Agama Islam UNISSULA